. . .ned, dimana kamu?" teriak seseorang yang sudah tak asing lagi memanggilku dari kejauhan. Keramaian seperti ini sudah biasa terjadi di komplek pesantren modernku ini. Oh ya, kenalkan aku Juned, aku santri disini, di Pondok Pesantren Modern Ar-Rahman. Aku sekarang duduk di kelas 9, dimana ini hampir puncak-puncaknya kenakalanku.
"hey, tep. Aku disini." sahutku kepada temanku, sebut saja hotep. Dia sobat karibku.
"ah, kamu disuruh bersihin mushalla kok malah menghindar aja" kata hotep
"iya, iya aku lagi cari sapu , nih". Seperti itulah aku, pagi ini aku kena hukuman ustadz Ahmed lagi, karena tidak ikut jama'ah shubuh. Dan tidak hanya aku saja ada hotep , jemblung dan muli yang juga terkena "punishment" dari ustadz ahmed.
Hari ini hari Jum'at , dimana hari favorit santri-santri Ar-Rahman, karena hari inilah hari dimana kami melepas stres setelah 6 hari "dihantam" stresnya pelajaran. Sudah kebiasaan setelah shalat Jum'at aku, hotep, jemblung dan muli beserta beberapa santri bengal lainya keluar tanpa izin untuk mencari hiburan, makan atau sekedar jalan-jalan. Walaupun kami tau jika ketahuan keluar tanpa izin bisa berakibat fatal bagi kelangsungan belajar kami disini, kami tak menghiraukan itu.
" bro, aku ngenet di sutami.net , aku "jagani" ya" pesanku kepada temanku.
" oke, ned ".
Kata "jagani" adalah istilah yang hampir mirip dengan melindungi,seperti kalau ada absen ya dipanggil ke warnet atau tempat lainya.
Lalu, aku mencoba melewati tembok tinggi nan berduri dengan sangat hati-hati. Langsung saja aku berlari ke warnet sutami.net. Kebetulan warnet itu sepi pengunjung. Seperti biasa aku membuka google chrome dan menuju facebook.com , menyapa teman-teman lamaku, berkomentar yang aneh - aneh dan tidak lupa aku membuka profil seseorang yang spesial di hidupku, namanya chacha, dia bisa dikatakan "cinta monyet"ku. Seperti biasa aku melihat foto - foto miliknya dan berkhayal berbicara denganya.
"ah, andai saja aku dulu waktu kecil sudah mengerti apa arti cinta yang sebenarnya" gumamku dalam hati.
cinta itu berawal saat aku SD kelas 3, chacha adalah murid pindahan. Semenjak mendengar suaranya saat dia bernyanyi, aku jadi tertarik denganya. Semenjak itu juga, aku mencoba mendekati chacha, dan aku sepertinya berhasil (yes!). Dia sepertinya juga merespon positif terhadapku. Aku dan Chacha pun berteman akrab. Hanya berteman akrab, walau ingin sekali aku mengatakan sesuatu padanya, tapi aku tahan sekuat tenaga, aku tau semua ada waktunya.
Hari-hari kulewati seperti biasanya. Hanya saja ada yang berbeda, aku menjadi lebih semangat ke sekolah. Tapi, sejak aku naik ke kelas 4. Kabar buruk yang membuat aku "down" menghantam diriku. Kudengar chacha pindah, tapi aku tidak tau ia pindah kemana. Saat itu, aku jadi sering melamun sendiri. Hariku tak biasa seperti dulu lagi. Aku sedih." dimana kamu,cha? Aku rindu dirimu ." kalimat itu pasti mampir di benakku setiap hari.
Hingga akhirnya, di kelas 9 ini, tak sengaja aku menemukan chacha di facebook, kulihat dia masih cantik seperti dulu. Aku coba untuk meng"add" dia, dan diapun mengkonfirmasiku. Lalu kucoba untuk mengobrol denganya, kutanyakan apa dia adalah chacha yang dulu kukenal, jawabnya "iya". Aku sangat senang waktu itu. Tapi, saat kutanya apakah dia masih ingat aku, dia menjawab, tidak. Aku memakluminya, karna sudah 6 tahun aku tidak berkomunikasi denganya. Setelah ngobrol panjang lebar kali tinggi, aku tau dia sekarang pindah ke jakarta. Tapi, saat aku mencoba meminta nomor hpnya, dia tidak mau membagikanya. Dia menolak dengan berbagai alasan.
"uh, *****rd!" gumamku
aku merenung sebentar, sepertinya dia sudah berubah, dia agak sombong dengan logat jakartanya sekarang. Sekali lagi aku memakluminya.
Tiba-tiba aku disadarkan musik dari de javu ini melalui earphoneku yang memainkan lagu " a place for my head - linkin park ". Aku pun langsung me"logout" komputerku saat kuketahui waktu ngenetku sudah mencapai 001:58:07. Maklum, aku hanya membawa uang 4000 saja.Lalu, secepat citah aku berlari menuju pondokku tercinta dengan selamat (yes! Lagi).
Malamnya, aku teringat kejadian itu lagi, aku pun merenung sendiri di depan asramaku yang sepi itu. ingin sekali aku rasanya menemuinya lagi. tapi, aku rasa aku tidak pantas untuk dirinya. toh, jarak antara aku dan dia juga jauh. akupun hanya bisa membayangkan dirinya dan berdoa agar dia mengerti perasaanku.
by : Achmad Zuhdi IX B / 04
Tidak ada komentar:
Posting Komentar