Slideshow

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

 Lara Lana
 Oleh: Dewi Dee Lestari
 Cerpen ini dimuat di kumpulan cerita dan prosa Filosofi Kopi (Gagas Media, 2005)

Sederet angka mencuat dari kertas putih, menusuk mata Lana. Ada sebersih takjub juga ngeri. Seberantak angka yang susah dihafal mampu membongkar kenangan usang dan memberinya makna baru. Dia yang baru. Aku yang usang.

Ruang tunggu selalu memancing dilema dalam hatinya, tapi tidak pernah seperti ini. Lana betul-betul tergerak untuk menelepon. Mungkin karena Lana sudah tak yakin kapan akan kembali, akankah dirinya kembali.

Lana memencet empat angka pertama dari sepuluh digit yang tertera. Dadanya berdegup kencang sampai sakit rasanya. Bibirnya bergetar resah, mengantisipasi. Begitu terdengar nada sambung nanti, Lana siap berekspresi layaknya pose untuk berfoto yang terakhir kali. Kata ‘apa kabar’ akan meluncur dengan semangat penghabisan matahari sore sebelum dipadamkan malam. Lalu ia lancarkan sepaket basa-basi dalam urutan yang tepat, seperti yang selalu dilatihkannya dalam hati sebelum lelap tidur, agar percakapan mereka tercatat sejarah sebagai yang paling mengasyikkan.

Lalu perasaan itu. Rasa rindu yang akan ia ungkapkan hati-hati, dicicil sehingga tidak terasa picisan. Rasaya sayang dikemas dalam kiasan seperti membungku puteri dalam gaun pesta lalu dilepas anggun ke lantai dansa. Cantik mengundang tapi membuat segan. Semua itu telah dilatihkannya berhari-hari. Bertahun-tahun.

Dua angka sebelum digit terkahir. Jarinya bertahan oleh detik yang tahu-tahu membeku. Detik yang tahu-tahu melebar dan membentangkannya dua puluh tiga tahun perkawanan. Dia selalu memuja Lana, begitu kata semua orang. Tapi mereka tidak bsia bersama karena alasan yang tak perlu dipertanyakan lagi. Kamu itu bajaj bermesin BMW, begitu Lana mengungkapkan padanya saat didesak.

Lana kenal banyak BMW bermesin bajaj, dan semua itu habis ia hina-hina. Untuk benar-benar bersanding sebagai pacar Lana, seseorang harus jadi mobil mewah Eropa luar dalam. Lana yang unik dan glamor. Kamu cukup jadi kacung intelektualku saja, kata Lana padanya. Mereka berdua lantas tertawa-tawa, mereka suka perumpamaan itu, sekali pun hatinya patah setiap kali kata ‘kacung’ terlontar dari bibir Lana yang menguncup menggemaskan.

Dia ingin jadi pendekar sakti, seorang master, ilmuwan kaya raya yang menciptakan temuan-temuan hebat untuk memajukan umat manusia. Lana ingin menjadi anggota dari kelompok ultraelit yang memperoleh teknologi dari makhluk Mars untuk membangun koloni rahasia di bulan. Mereka percaya teori konspirasi dan secara berkala bertukar informasi yang dikarang sendiri. Tak ada orang yang lain mampu menghibur Lana sebegitu sempurna, memuaskan rasa humornya, menjajal daya khayalnya.

Masa kuliah mereka habiskan di tempat berbeda. Dia kuliah di UI dan untuk itu terpaksa menumpang di dapur pamannya di Lenteng Agung karena beliau beranak delapan dan itulah satu-satunya tempat yang masih muat digelari kasur. Lana kuliah di USC yang mengharuskannya tinggal di Los Angeles. Sama-sama ‘L.A.’, baru kalau diuraikan perbedaannya terlihat, canda mereka selalu sama. Namun ada kalanya persamaan insignifikan itu, aksara L dan A, menjadi satu-satunya penghibur kala kangen mereka tak lagi terbendung.

Lana tidak menyelesaikan kuliahnya di USC, dan itu tidak masalah. Bisnis keluarganya terlalu banyak untuk menunggu sebuah gelar kesarjanaan. Lain halnya dengan dia yang mencicil gelar demi gelar, mengetuk banyak pintu demi beasiswa, lalu kembali berjuang meniti karier akademis yang terjal, yang tak akan pernah membuatnya sekaya raya Lana.

Saat dia menjadi dosen, hidup sederhana dalam rumah cicilan tipe 35 di perumahan milik universitas yang sebagian masih rawa-rawa, Lana membantunya pindahan, bahkan menginap dan ikut tidur di atas tikar. Pendar-pendar televisi pemberiannya menyemarakkan dinding polos yang tak berhias. Lana tidak punya koloni di bulan, tapi penghasilannya lebih dari cukup unutk menghadiahkan televisi.

Lana tinggal seminggu di rumah itu. Setelah kita mencoba hidup 24 jam x 7 hari dengan seseorang dan tidak merasa bosan, maka orang itu bisa kita nikahi, Lana berteori. Mendengar ucapan Lana, ia tertawa sampai berurai air mata, diikuti Lana sampai tercekik-cekik. Saya tidak mungkin menikahi kamu, ia bercelutuk di ujung tawanya. Barulah Lana sadar, mereka berdua tertawa karena alasan yang berbeda.

Suatu hari dia bilang kalau dia punya pacar. Baru seminggu. Seorang gadis tingkat akhir yang lugu, kaku, dan tidak seru. Tidak percaya UFO, tidak suka Kho Ping Hoo, dan tidak peduli ada tidaknya konspirasi global selama nasi tersaji di meja makan keluarganya setiap hari, selama adzan masih berkumandang lima kali sehari. Kenapa kamu bisa suka, Lana bertanya. Karena dia mau sama saya, ia menjawab. Lana spontan tertawa, kaku dan lama. Ia hanya tersenyum dan menunggu tawa Lana usai. Saya akan menikah, lanjutnya saat hening. Bagaimana kamu bisa menikahi orang yang baru kamu kenal, yang tak seru, yang tak bisa menghargai keunikan pikiranmu, yang tak bisa kamu ajak bercanda dan berkhayal semalam suntuk, cecar Lana yang mulai marah karena percakapan itu makin tidak lucu.

Dia diam, menatap Lana dengan lelah. Dia jemu menanti yang tak pasti. Dia jenuh menjadi pihak yang tak berdaya. Manusia mana yang tidak, pikir Lana. Namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Keadaan mereka terlampau jauh berbeda. Terkadang Lana berpikir keajaibanlah yang melahirkan manusia satu ini. Bagaimana mungkin lingkungan serba kekurangan, kolot, konservatif, ortodoks, kampungan, dan segala ajektif yang menandakan sistem klaustrofobik sosial mampu menghadirkan dia yang sebegitu canggih dan gila. Seolah dia terbelah dalam dua dunia: dunianya bersama Lana dan bersama sisa dunia tanpa Lana.

Lana ingat saat terkahir kali nomor itu tertera di layar ponselnya: Besok saya lamaran. Doakan ya. Lana tergeli sendiri, apa yang harus didoakan? Hidup berjalan sesuai kontrak yang disepakati antar-roh sebelum terlahir menjadi daging di dunia. Apa pun yang terjadi bukanlah keberuntungan atau kesialan, melainkan eksekusi kontrak belaka. Jadi, apakah seseorang bisa dibilang sial kalau sebenarnya kesialan itu direncanakan? Lana tambah stres saat pertama kali mendengar konsep itu di retret anti-stres.

Akhirnya Lana tak tahan lagi, nelepon membabi buta: Saya mohon, jangan pergi melamar ke sana. Kalau kamu menikah, saya akan jadi orang paling kesepian di dunia. Kalau perlu, saya yang melamar ke orangtua kamu. Jangan bohongi diri kamu. Cuma saya yang mengerti siapa sebetulnya kamu…

Ia memotong, dingin, seolah disusupi roh asing yang tak Lana kenal: Selama ini kamu cuma mengenalku dalam versi yang kamu mau. Aku begitu karena kamu. Kamu tdak pernah tahu siapa diriku sebenarnya.

Lana menggeleng. Tidak mungkin. Barangkali ia salah sambung. Perjanjian macam apa ini? Benarkah ini roh yang sama, teman sebangkunya sejak SMA, yang selalu berkata mereka adalah sejiwa terbelah dua, soulmate? Lana menutup telepon. Aku ditipu. Breach of contract.

Anaknya yang paling besar sudah mau masuk SD, mereka masih tinggal di rumah yang sama. Lana tahu itu dari seorang alumni. Dan kamu belum menikah? Temannya itu bertanya, hati-hati. Lana menggeleng ringan dengan ekspresi yang bikin iri. Ada kemerdekaan di sana, penerimaan, dan keberanian untuk menjadi beda. Sejak dulu memang cuma Lana yang punya itu semua, temannya membatin. Bergaul dengan Lana seperti hanyut dalam air sejuk, tapi kesejukan itu lama-lama menjadi dingin yang mengintimidasi. Temannya pun permisi pergi, meninggalkan Lana yang kehilangan belahan jiwanya pada reuni akbar, pada sat jiwa-jiwa yang terpisah seharusnya kembali bertemu.

Digit terakhir. Jatuh pada angka nol. Jempol Lana gemetar seolah dibebani bergunung-gunung sampah batin yang dikoleksinya sepanjang hayat. Hatinya lalu mengukur dan menimbang: Akankah aku bertambah tenang bila berhasil membuktikan pada diriku, pada dia, pada dunia, kalau aku baik-baik saja?

Saut percakapan telepon akan membuktikannya. Satu dosis kejujuran sebelum Lana pergi meracuni tubuh dengan kemoterapi – racun yang berbohong jadi obat.

Jempol itu melayang di atas nol. Kejujuranlah obat sejati.

Suara sintetik bernada tinggi menggema di ruang tunggu yang lengang. Tombol terakhir dipencet sudah. Aku mencintaimu. Tidak akan berubah.

Tombol merah yang Lana pilih menghapus kesembilan digit angka pada layar ponsel yang menyala biru. Seorang perempuan berseragam menghampirinya, ‘Bapak Maulana, mari saya antar ke pesawat.’

Lana tidak terburu-buru. Tangan bergerak pelan dan khidmat. Pesawat itu pasti mau menunggu seorang pesakitan untuk melipat dan menyimpan secarik kertas ke dalam dompet, sebagaimana kertas itu sudah terlipat dan menunggu bertahun-tahun di tempat sama. Lalu Lana beringsut hati-hati ke kursi roda yang dibawakan khusus untuknya.

‘Tidak apa-apa, Pak?’ petugas itu bertanya saat melihat mata Lana.

Lana tersenyum tipis, ringan, ekspresi yang memancing rasa iri. Ada kejujuran di sana, kepasrahan, dan keberanian untuk menjadi beda. Namun ada juga bulatan air menyerupai angka nol yang menyembul di pelupuk mata. Lana menghancurkan bulatan itu dengan punggung tangan, ‘Tidak apa-apa.’

***

Tentang Dewi Dee Lestari
 Diawali dengan debutnya lewat novel serial Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh pada tahun 2001, dan menyusul enam judul buku sesudahnya hingga yang terakhir Madre tahun 2011, Dee telah menancapkan jejak indahnya di khasanah perbukuan negeri dan hati pembacanya. Cerpen Mencari Herman yang diterbitkan dalam antalogi Filosofi Kopi merupakan karya sastra terbaik versi Majalah Tempo tahun 2006.
Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 15 Juli 2012)


PERNAH kuceritakan padamu tentang kota-kota hikayat yang sudah tamat, sebagian mencoba bangkit, sia-sia. Ada yang berhasil tegak, meski tak sampai jaya, yang lain lenyap, hilang berita, terhapus dari peta. Bagaimana pun, puji sanjung baginya hanya sempurna dalam cerita dan kaji lama, sesekali membubung puja-puji serupa doa dari buku-buku sejarah berdebu tua, penuh ngengat, tak terbaca. Begitulah kuamsal Barus, Singkel, Demak, Kudus, Gresik, Tidore, Malifut, Tiku, Siak, Bandar Sepuluh! Itu kota-kota hikayat yang pernah kusebut, penuh takjub, kini menjadi milik sang waktu.
Dunia berubah. Berkali-kali berubah dengan jalur, peta dan kebutuhannya yang tak terduga; yang lama dibuat lindap, yang baru timbul gemerlap. Ingatlah, Jalur Sutra memintas Asia—separoh dunia—lewat darat; Jalur Keramik di samudera raya, memunculkan kota-kota kuno sarat kejayaan, sebagaimana kau hapal, Sriwijaya atau Trowulan. Lalu semuanya perlahan surut, berganti kota-kota syiar yang semarak dalam syara’ dan Kitabullah. Itulah yang kumaksud kota-kota hikayat, begitulah akhirnya ia tumbuh, dan runtuh juga.
Tanpa jubah dan salam suci, segalanya berganti di luar kendali wali dan istana. Perahu, kapal layar, kamper, damar dan rotan, berganti kapal-kapal uap berburu lada, pala, emas dan kapas. Dunia lama dilipat. Kapal-kapal uap berganti kapal baja yang bergerak lebih cepat—Granada, Kordoba jatuh bangun, Damaskus, Baghdad, Istanbul meregang hancur, Suez terbuka—maka yang dibutuhkan lebih dari pengawet, teritori atau agama, tapi segalanya. Isi perut bumi dan yang bermukim di atasnya—kukatakan, segalanya! Maka kota-kota yang bersandar pada alam, tinggal diam, meski mungkin lebih baik.
Setelah kota-kota hikayat tamat, muncul kota-kota kuartal kedua, ialah kota-kota kecil pribumi yang lahir dari rahim alam: pelabuhan ikan, tambang rakyat, atau tempat persinggahan. Mestinya, tanpa sentuhan yang berarti, ia tumbuh juga: seruas-dua ruas jalan, secabang dua cabang simpang, tanah lapang, los pasar, dan kantor sederhana untuk sejumlah urusan—cukuplah. Tapi, kapal-kapal kolonial datang, bendera maskapai dagang berkibar, terkokang senjata dan meriam ditembakkan. Segalanya mengalami pembesaran: loji-benteng, kantor wedana-gubernuran, bandar-pelabuhan, menampung hasrat para pecundang!
***
AKU mencatat beberapa kota seperti itu dengan segala ikatan kasih yang kupunya. Meski akhirnya harus kuikhlaskan ketika ada bagian yang terlepas atau dilepaskan. Kusebut untukmu, Sibolga, kota yang tumbuh dari alam dengan tepian teluknya yang cantik—o, tapian nauli! Tumbuh ia tak jauh dari sisi Barus dan Singkel, dua kota hikayat di utara, yang perlahan susut, lampus cahaya. Ya, mula-mula ia hanya tempat berlabuh kapal ikan berkat lengkung teluknya yang seperti alis kekasih, dibentengi pulau-pulau kecil sehingga aman tersembunyi. Ramailah kapal merapat dan maraklah tepian yang cantik itu. Hingga tiba masa tangan kolonial merogoh teluk sampai ke jalanan, kampung dan lorong. Gedung dan gudang didirikan. Pasar, jalan dan pemukiman diperlebar. Genderang dunia baru dipancarkan.
Tapi ketika Jakarta atas nama kedaulatan memegang tampuk kekuasaan, pandangan diarahkan ke pantai timur, ke tepi Selat Melaka, jalur laut paling sibuk di dunia. Medan, kota perkebunan dengan pelabuhan Belawannya berada persis di tengah kesibukan itu. Tinggallah Sibolga dengan wajah canggung disurukkan; gedung-gedung setengah jangkung, pasar dan kampung kembang tak jadi, gudang-gudang dialihkan. Peran Sibolga sepenuhnya diambil Medan yang tumbuh bagai raksasa gemuk penuh beban. Sampai kini, kita tahu, harapan Sibolga untuk jadi ibukota propinsi baru—Tapanuli—kian sayup dan tidak kedengaran lagi.
Nasib Sibolga tak ubahnya Sabang, kota di ujung barat tanah air yang sempat terlantar ketika pemerintah sibuk dengan kota impian di perbatasan Johor-Singapur. Status pelabuhan bebas Sabang dicabut, dialihkan ke Batam, demi mimpi kejayaan dalam satu malam. Meski statusnya kini dikembalikan—dan Batam tak kunjung besar—Sabang tetap gugup seakan menyaksikan air raya sehabis surut. Pun Cilacap di selatan Jawa yang dalam sejarahnya pernah mencecap masa jaya, kini mati suri setelah untuk terakhir kalinya sukses menjadi emergency exit orang Belanda saat Jepang mengumandangkan Asia Timur Raya. Cirebon dengan “jalur rotan”-nya lantas menggantikan peran Cilacap, tapi tak lama kemudian, ketika rotan hilang di pasaran, Semarang dengan “jalur peti kemas”-nya tak lagi tergantikan.
Kota senasib lainnya adalah Padang, dengan muaranya terlindung Bukit Barisan yang tercelup langsung ke lautan. Orang Minang, Nias, Jawa, Cina, Arab, Keling, India hidup sebagai nelayan dan pedagang tanpa hasrat menundukkan. Barulah pada tahun 1620 orang Aceh merebut Padang, dan tahun 1664 VOC mengusir Aceh, maka dimulailah intrik kekuasaan. Kapal kulit putih ganti lego jangkar di Muara, dari mana kota berkembang ke utara dengan Pasar Gadang, Jalan Belantung dan Menara Jam di perempatan, melebar terus ke barat, ke bukit kapur Indarung. Batubara di Ombilin—pedalaman Minangkabau—pun mulai ditambang, dan Padang termasuk kota pertama di Hindia yang mengenakan sabuk besi di pinggang; terbelintang dari celah gunung sampai ke tepi lambung kapal di Emma Haven, yang bertahun-tahun kemudian kau kenal sebagai Teluk Bayur dalam sebuah lagu selamat tinggal. Maka sempurnalah Padang menggantikan Tiku-Air Bangis di utara, Indrapura-Bandar Sepuluh di selatan, juga Siak-Senapelan di timur kawasan.
Ketika Jakarta mengambil-alih kekuasaan, sedikit berbeda dengan Sibolga, Padang  tidak serta-merta ditinggalkan. Pandangan tak langsung diputar ke lain kota, katakanlah ke Pekanbaru di pantai timur atau Bukittinggi di pedalaman. Padahal kota yang terakhir pernah jadi ibukota Sumatera bahkan pusat pemerintahan darurat republik, dan kota yang pertama santer beraroma minyak dunia. Tapi, pamor Padang justru digosok tangan segar Orde Baru, seolah membayar rasa bersalah atas kekuasaan terdahulu yang membombardir kota ini dari udara. Ya, Padang digenjot seakan dengan cara itu ranah bunda memanggil bekas pejuang PRRI kembali ke pangkuannya. Terminal Lintas Andalas, Pasar Raya, Jalan Permindo yang sibuk, Duta Mall dengan kaca-kacanya yang lebar, Stadion Agus Salim, Taman Budaya dan proyek Banda Bakali, itu beberapa hal yang kuingat benar. Gilang-gemilang. Kantor gubernur dengan atap seruncing tanduk kerbau, dan kantor walikota yang sebersih seekor angsa, tampak seperti sepasang pengantin di jalur utama. Monumen Adipura terpancang di pertigaan, seiring maraknya semboyan adat dan agama sebagai watak kota, meski kadang kurasakan bagai kepalan tangan pada Tugu Tinju di sebuah simpang—mengacung ke udara, kosong-hampa. Sebab setidaknya kuketahui, diam-diam, perempuan malam bergincu tebal mulai berkeliaran di Taman Melati dan pantainya yang panjang.
Apa pun, Padang lantas jadi tujuan utama di Sumatera Tengah dan betapa penuh gairahnya ia. Kampus (swasta atau negeri) memperkokoh diri. Lembaga kursus (yang resmi dan tak resmi) tumbuh subur, terpacak di ruko-ruko sepanjang jalan kota tercinta, memakai istilah Akademi, Institut, College atau Lembaga. Bidang terbanyak adalah keperawatan, akuntansi dan computer, anehnya jarang kutemui bidang pertanian dan kelautan! Mahasiswa berdatangan dari Bukittinggi, Kerinci, Jambi, Pekanbaru, Bengkulu, Lubuklinggau, Tanjungpinang, Sidempuan, bahkan Aceh dan Medan. Lulusan universitas di sini jadi trendsetter di daerahnya masing-masing. Sementara lembaga-lembaga kursus sukses menghasilkan anak-anak muda “siap pakai” yang demi Dewa Zombie, cocok benar dengan azaz masyarakat tinggal landas dalam kamus pembangunan Orde Baru. Maka sebagaimana kau ingat, mereka berlomba menawarkan ijazah ke kota-kota industri yang sedang tergerek—Batam, Serang, Tangerang, Surabaya—meski soal nasib, entahlah.
Gairah Padang juga tercermin dari sejumlah surat kabarnya yang terbit meyakinkan: menyebar di Sumatera Tengah bahkan Jakarta, dengan kepala biro di kota-kota tetangga yang tidak punya media, atau yang jatuh bangun merintis media. Kantor perwakilan wilayah mulai PLN, Pos, Telkom, Armada Laut dan entah apa lagi ada di sini. Sementara Pekanbaru, kau tahu, benar-benar hanya berupa pasar yang diramaikan tiap hari pekan seperti pada zaman Senapelan. Kadang muncul rasa simpati kami—aku dan beberapa kawan koresponden koran lokal—bahwa Padang punya terminal bis yang hidup, berdampingan dengan Pasar Raya; sedang Pekanbaru yang kaya minyak hanya punya terminal kecil kusam, Mayang Terurai, di tepi seruas jalan. Nangka atau Tambusai. O, sangsai!
***
KINI, tanpa aba-aba muncullah kota-kota kuartal ketiga, ialah kota-kota yang berpacu dengan hiruk-pikuk isu dunia. Demokrasi. Otonomi. Desentralisasi. Apa yang terjadi? Banyak hal yang terjadi. Tangan sentral kekuasaan telah dipelintir, dipatahkan, berganti tangan-tangan lokal yang merumuskan masa depan. Membagi wilayah dan kekuasaan, membuat surat-surat, melayangkan proposal. Pemekaran. Lahirlah kota-kota transisi. Anggota parlemen dan raja-raja kecilnya aman terlindung dalam kitab undang-undang demokrasi. Rapat terkunci.
Maka kota-kota hilang, kota-kota datang… Padang yang dulu terkembang jadi guru, jadi titik tuju, kini buntu tak berdaya. Menyusurinya pada suatu hari, kutemukan simpang-simpang semati tugu, pasar raya yang terancam ditinggalkan, terminal bis berganti mall. Kota tanpa terminal? Betapa! Terasa hatiku dicakar kucing liar, dan dengan gemetar kupunggungi mall yang merampas ingatanku—ingatan semua orang. Kususuri Jalan Pancasila yang terbentang ke tepi laut, membawaku menjauh dari kenangan. Betapa larut. O, bis-bis dengan klakson melengking, terasa bergema lagi. Tapi tidak. Itu debur ombak melimbur rumah-rumah yang gelisah dalam tidur. Maklum, gempa dan ancaman tsunami datang menghoyak tak kenal waktu membuat penghuni Padang seakan perang mental dengan alam. Banyak yang bertahan, karena bukankah seorang pemimpin kita yang bijak-bestari telah mengutip pepatah lama: kalau takut gelombang jangan berumah di tepi pantai? Tapi hidup tak sesederhana kutipan Marzuki Alie, lihatlah, sebagian orang terpental, pindah ke pegunungan, terutama ke Payakumbuh, negeri yang airnya jernih ikannya jinak. Terpisah hanya oleh Kelok Sembilan dengan Riau, mau tak mau Payakumbuh melirik Pekanbaru, ibukota orang Melayu yang terus tumbuh dan kini benar-benar seperti pasar baru—jauh dari zaman Senapelan.
Tinggallah Padang yang stagnan, buntu, menyesakkan. Terlebih selama ini ia telah melupakan pintu belakangnya ke selatan; jalan ke bekas Bandar Sepuluh, Indrapura dan Tapan, nyaris bagai jalan ke jamban. Padahal, jalan itu menghubungkannya dengan dunia luar, kota-kota perbatasan, Bengkulu, Jambi, terus ke Lampung atau Palembang. Tapi Padang lebih tergoda pantai timur sehingga jalan ke situ jadi pintu depan yang selalu terbuka. Jalan lempang yang terus diperbesar menuju kota-kota dicelah gunung—Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh—terus ke Pekanbaru, Duri dan Dumai. Bahkan kini akan dibuat jalan tol; kuamsal klakson kematian bagi sebuah kota di pantai barat Sumatera.
Tanpa tedeng aling-aling, tanpa instruksi (ini zaman demokrasi, Bung!) Pekanbaru segera mengambil-alih peran kawasan; kota transisi yang terus tumbuh, terus tumbuh, jadi titik tuju segala jurusan. Lihatlah, bis-bis dari Jawa selalu mencantumkan Pekanbaru sebagai trayek utama, sementara bis-bis ke Padang yang dulu merajai jalan Lintas Sumatera tinggal cerita. Begitu pula pesawat terbang. Jika hendak mengirim barang ke Pekanbaru, anda perlu mem-booking pihak cargo satu atau dua hari sebelumnya, sebab muatan selalu penuh. Tapi coba iseng bertanya tujuan ke Padang, barang anda bisa berangkat saat itu juga!
Begitulah, Pekanbaru dengan enteng menyandang banyak tugas nasional—meski kadang tak signifikan—mulai Festival Film yang ramai gosip selebritis, Kongres PSSI yang kisruh habis, dan kini PON yang jadi bancakan segar petualang. Toh berbagai fasilitas terus dibangun, meski isinya tak cukup meyakinkan: galery seni, perpustakaan megah, kantor gubernur bertingkat-tingkat, terminal besar di luar kota, dan tak lupa mall dan hypermarket di mana-mana. Ada jaminan dana untuk itu semua. Sebab bukankah otonomi memberi banyak jatah minyak, gas, sawit dan sisa kayu hutan, meski yang tercecer juga tak kalah banyak?
Seorang kawan lama, mantan kepala biro koran terbitan Padang, berkata padaku dengan alis terangkat,”Dulu, kami tak punya koran dan aku bangga bisa bergabung dengan koran urang awak. Tapi sekarang koran yang terbit di kotamu, induknya ada di Pekanbaru. Terminal bis? Paling besar di Sumatera, bahkan ada tempat menginap segala. Dan Padang, dengar-dengar tak punya terminal. Lintas Andalas tergusur, Aie Pacah terlantar, begitu tak?”
Apa pun, bersimpati atau mengejek, aku paham: Ya, itulah yang terjadi…Tapi tak urung kubalas juga ia, setengah bercanda,”Terminal Padang justru kian besar, Kawan, sebab setiap sudut kota adalah terminal. O, tidak. Terminalnya dialihkan jadi bandara internasional, sehingga Padang punya dua bandara: Tabing dan Minangkabau. Sementara Bandara Syarif Kasim Riau kalah bersaing dengan terminal bisnya yang kelewat besar sehingga bis-bis takut masuk ke dalamnya….” Kaget juga ia, tapi lantas kubawa tertawa.
***
KIRANYA banyak kota pasang-surut, bahkan hidup-mati, dalam siklus yang kusebutkan. Penyebabnya beragam. Mulai tangan panjang kekuasaan yang menyentuh semua hal, atau kekuasaan bertangan panjang yang mencomot setiap jengkal, apakah bedanya? Habisnya sumber alam, berubahnya peta dan jalur utama sampai keroposnya kebijakan lokal, mungkin juga bencana yang membuat karam. Secara sederhana siklus itu bisa direka: sebuah kota tumbuh dari alam, diolah tangan kasih orang lokal, lalu direbut kolonial yang  menyingkirkan peran pribumi. Kemudian, atas kehendak zaman, kota berpindah ke kekuasaan nasional yang dengan emosional (juga serampangan) menuding-nuding langit dan bumi dikuasai oleh negara—menyingkirkan kemungkinan langit dan bumi sahabat kami.
Begitulah, sebelum kolonial mengendus timah Pulau Bangka, orang-orang tempatan terbiasa mengayun cangkul di ladang-ladang bertanam lada atau sahang. Lewat cara ini Mentok di barat tetap tumbuh alamiah, seolah kau bertemu kubangan dan dangau pengembala di balik semak-semak yang tak sengaja dikuakkan. Tapi, orang kulit putih yang semula mabuk kepayang akan lada atau sahang, mulai menguak takdir, tak sekedar semak-semak. Mereka kerahkan tenaga perantau Cina dari Tumasik dan Malaya memulai pesta bertahun-tahun suntuk menggali dan mengolah: timah, timah, timah! Maka muncullah Belinyu di utara yang petak-petak tokonya tetap bisa kau hitung sambil jalan, tapi secara “ruh” ia pusat tambang kolonial. Selamat tinggal lada-sahang, cempedak-durian hutan!
Sampai akhirnya pesta itu dilerai pekik sorak kemerdekaan dari sebuah bangsa yang sudah pandai mencium isi perut bumi. Mereka usir si asing pergi. Proklamasi, Merdeka atau Mati. Maka kekuasaan pribumi menyusun rencana atas kota-kotanya sendiri. Nasionalisasi. Merah putih. Investasi. Tapi kekuasaan nasional kadang tak masuk akal dibanding kolonial. Bukannya membuat ruang kota lebih nyaman, tangan itu malah mengobrak-abrik taman, kanal, jalan dan lorong-lorong sisa kolonial. Jadi bancakan. Selagi ada hasil untuk dikeruk, sepanjang itu pula semuanya ditarik masuk: investor, pihak ketiga, tentara dan senjata. Ketika bahan galian habis, hutan-rawa tinggal cerita, tangan itu tak mampu melakukan apa pun, kecuali meninggalkannya tanpa dosa—kolong menganga, lorong tambang tak berguna, bukit-bukit krowak, tata ruang tanpa arah dan bangunan tua rusak binasa.
Lewat cara ini Sungailiat dan Koba digali, meski pada awalnya Belinyu di utara tampak bakal hidup selamanya. Tapi ketika timah akhirnya susut, Belinyulah yang lebih dulu tutup seakan sudah malam. Kau harus bersiap dengan lilin atau senter di tangan, menuruni tangga rumah-rumah tua, sebab sebagaimana layaknya usaha gulung tikar, listrik mendadak tercerabut dari saklar. Sungailiat pun surut, Koba mencoba bertahan, Jakarta dan Palembang sudah lebih dulu kenyang! Kini giliran laut ditambang, tak sebatas pasir kuarsa—toh masih ada sisa timah yang bisa disedot kapal-kapal baja. Tak mau jadi penonton, orang-orang yang tak lagi punya sahang di ladang-ladang, membuat ponton-ponton kayu meniru cara menyedot kapal keruk—meski mereka dicap “orang TI”, tambang ilegal. Apa boleh buat. Mereka perlu hidup, selayaknya kota mereka yang nyaris hilang, Pangkalpinang, kini bangkit jadi ibukota propinsi baru—yang terlambat! Tapi tak ada kata terlambat bagi sebuah kota yang secantik dan sejinak gadis Bangka; selalu ada saat ia tumbuh dipinang!
Proses peralihan yang lebih kurang sama terasa pula di sebuah kota ujung pulau: Baubau di Buton. Kota yang ranum berkat pelabuhannya ini, diincar kolonial karena betapa terbukanya ia di tengah lintasan rempah-rempah. Sementara kapal-kapal kecil seperti biduk kora-kora bisa berlayar dalam jarak yang singkat ke Maluku, “kapal induk” tinggal menunggu dalam jarak aman di Pelabuhan Baubau. Sampai lambungnya penuh, siap bertolak ke Melaka, Caliccut, dan terus ke Eropa. Lagi pula kota ini punya istana dan benteng di atas Bukit Palagimata, bukti bahwa tangan kasih orang lokal telah menjaga dan membesarkannya.
Strategi VOC: jika kota direbut salak meriam, isyarat tak bakal aman sepanjang masa sebab, kau tahu, Baubau bukan kota yang tumbuh dalam semalam. Lihatlah, istananya terlindung benteng batu di ketinggian bukit karang, tak mungkin ditundukkan dengan sikap keras kepala. Maka ditawarkan cara lama: kerjasama. Ya, lewat kerjasama saling untung berdagang rempah-rempah, VOC dan Buton membangun apa yang disebut “persekutuan abadi”. Namun dalam perjalanannya, seperti dapat diduga, persekutuan berbuah penaklukan, sebab tiada benteng yang tak bercelah. VOC, kemudian Gowa di barat daya—dalam misi memburu Arung Palakka—sama-sama memanfaatkan celah itu, membuat kota jatuh-bangun, setengah hancur. Untunglah sejarah tampil jadi penengah. Kulit putih hengkang, Arung Palakka pulang, dan tibalah giliran kekuasaan nasional menggantikan tahta pulau karang.
Tapi anehnya, kekuasaan Jakarta via Ujungpandang malah berpaling (atau berhitung?) atas Buton. Tanpa proses berarti, mereka boyong semua hal yang berkaitan dengan status kekotaan keluar dari Baubau, dipindahkan ke tempat yang belum siap benar di kaki tenggara Celebes, di tepi teluk agak pedalaman. Dengan cara ini, kekuasaan nasional tampaknya ingin tempat yang steril untuk dikendalikan, yakni Kendari, alih-alih Baubau yang dianggap terkontaminasi oleh “persekutuan abadi”, kehadiran Arung Palakka, isu basis PKI, dan entah apalagi. Aih, tangan kekuasaan mana yang mau repot-repot membersihkan piring kotor sisa makannya sendiri? Maka Kendari dipaksa menanggung beban sebagai ibukota propinsi Sulawesi Tenggara, yang kemudian terbukti, alangkah beratnya! Tidaklah aneh bahwa yang kini terjadi sebaliknya: Kendari terus-menerus didera beban sepi, sementara Baubau semarak dan bangkit lagi—kota ini memang petarung sejati, selayaknya hidup di lautan!
***
BEGITULAH, ada banyak kota yang dulu jaya, kini surut, hilang gema. Seperti laut surut hilang berita. Cuaca berubah. Kota-kota transisi berebut tumbuh, mengambil-alih kejayaan yang bersisa, meski tak mudah. Dan kota lama pun tak hendak menyerah, susah-payah menjaga apa yang pantas dijaga. Sebut saja Sawahlunto, kota tambang di pedalaman Minangkabau itu, dulu penghasil batubara nomor satu, kini harus bekerja keras mengolah bekas lorong tambang dan gudang-gudang tuanya, lori dan kereta uapnya untuk memikat orang datang berwisata. Sementara perusahaan tambang yang bercokol sejak zaman kolonial, pergi bergegas seolah “urang sumando” meninggalkan rumah anak-kemenakan kami yang merana. Pun Bukittinggi yang lebih dulu berjuluk kota wisata, setelah masa sebagai ibukota Sumatera pada tahun 50-an lewat, kini lesu darah. Tak ada lagi kabar baru yang terdengar kecuali kabar lama yang berulang: kebakaran pasar, sangketa wilayah, pertengkaran, sesekali pesona Jam Gadang dan Ngarai Sianok yang perlahan pudar.
Demikian halnya di Kalimantan: diam-diam, Balikpapan mengambil alih peran Samarinda karena dataran rendah Mahakam itu kian sesak dan terendam banjir. Sementara Balikpapan tumbuh teratur dengan jalan-jalan membujur lapang, trotoar tanpa pedagang, lengkap dengan zebracross bertulisan,”Menyeberang di sini Anda dilindungi undang-undang.” Sebuah koran menurunkan headline,”Balikpapan ibukota Kalimantan”. Itulah kenyataannya. Kecuali kantor gubernur, bukankah semua kantor penting ada di Balikpapan? Ini tak beda dengan Banjarbaru yang mengambil peran Banjarmasin di tepian Barito yang kian penuh, berdebu. Bandar udara dan sebagian Universitas Lambung Mangkurat, kantor-kantor tambang dan jasa, bahkan kantor gubernur Kalsel kini bergeser dari kuala ke hulu.
Di Lombok, nama Ampenan terasa sayup di bawah gema nama Mataram. Meski bersama Cakranegara, Ampenan dan Mataram masih satu kawasan, tapi kita tak akan pernah mendengar lagi nama Ampenan diucapkan seperti bertahun-tahun lalu ketika seseorang menyebut Lombok, Gogoh Rancah atau Nusa Tenggara. Ampenan telah menjadi kota tua yang termangu bisu di sudut pelabuhan lama. Begitu juga Singaraja Anglurah Sakti, dulu ibukota Sunda Kecil, pelabuhan ramai di utara, kini tinggal jalan-jalan kecil seolah tak ada apa pun yang pernah terjadi di sana. Denpasar bersama Kuta, Gianyar dan Tabanan di kaki Pulau Dewata telah merenggut perannya dalam metropolis Sarbagita yang terus menggurita!
Di kaki barat Sulawesi, kudapati Majene, kota afdeling Belanda, kini seperti gadis Mandar yang ditinggal kekasihnya berlayar. Upaya merawat dan mendirikan universitas lewat slogan “Kota Pendidikan”, tak kunjung mendatangkan kekasih yang dinanti. Orang lebih suka mendapati gadis Mandar yang lain di timur, Polewali, kota transit, dagang dan jasa. Atau ke barat, Mamuju, yang mendadak penuh pesona sejak didapuk jadi ibukota propinsi baru, seolah gadis pingitan yang keluar dari balik alat tenunnya. Atau lebih ke barat lagi, Pasangkayu, yang berpacu membuka ruang baru, penuh kemungkinan dan godaan!
Inilah masa kota-kota otonomi tumbuh, jadi kota transisi yang siap menggantikan peran kota-kota lama, yang buntu, stagnan dan sarat beban. Meski sesungguhnya tak ada yang benar-benar bisa tergantikan. Bagaimanapun kota lama telah menjadi cerita, legenda atau kenangan, menggenangi ruang-ruang ingatan, susah-payah bertahan dari peta, sejarah dan roda zaman. Sebaliknya, siapa menjamin masa depan kota-kota transisi secerah langit tanpa awan? Tanpa mengabaikan harapan besar, lihatlah betapa hampa kenyataan. Dalam kota yang berlari, terus berlari, kusaksikan orang-orang lokal, orang-orang gusuran, pemilik kota yang sejati, malah terabaikan, seperti bagian kota tua dibiarkan terlantar, menunggu ambruk atau runtuh, mungkin akan menimpa kepalamu. O, betapa sedih dan mengancam! (*)


/Parigi Moutong-Yogyakarta, 2011-2012


[ Senin, 28 Juli 2008 ]
Impian Besar Sumirah
Oleh Yoyok Hariyanto








Sumirah masih saja diam, menatap tajam bulan keemasan yang cahayanya menyiram segala penjuru Desa Watu Itheng. Sebuah desa paling timur di Kecamatan Pulung. Desa itu bernaung jauh dari keramaian Kota Ponorogo, yang moncer oleh seni reog. Desa yang masih asing tersentuh oleh pembangunan. Desa yang masih kental menjunjung tradisi animisme dan dinamisme. Walaupun sebenarnya, masyarakatnya sudah mengenal dan memeluk agama Islam. Desa yang seakan terlupakan. Terlupakan oleh kemegahan dan kemajuan zaman.

Malam itu, cahaya bulan hinggap di atas lembaran-lembaran daun dan celah ranting pohon cengkih. Pohon yang menyembunyikan Watu Itheng jika dilihat dari kejauhan. Pohon penunggu Watu Itheng yang setia. Di bibir jendela kamar, Sumirah melemparkan tatapan mata dari bulan ke kunang-kunang yang bertebaran di sekeliling rumahnya. Rumah yang sebagian dindingnya terbuat dari glugu, sebagian lagi gedhek. Kunang-kunang itu menari-nari diiringi orkestra musik merdu yang mencengangkan pendengaran dan tata lampu yang membius penglihatan. Orkestra musik suara serangga-serangga malam dan tata lampu alami cahaya bulan purnama. Berjuta kunang-kunang itu seakan berusaha menghibur hati Sumirah yang sedang gundah.

Sumirah termenung. Matanya yang bulat mulai jernih dan berkaca, meneteskan butiran-butiran air mata kecil, kemudian mengalir semakin deras. Melewati pipinya yang hitam berminyak, lalu ke dagunya yang mungil. Menetes membasahi lantai kamarnya yang sepenuhnya tanah, kering, dan berdebu. Namun, sangat lembap di musim penghujan.

Sumirah terpaut memikirkan nasib yang menimpanya. Nasib buruk yang menggadaikan masa remajanya. Keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke SMU harus dia kubur dalam-dalam. Terkubur bersama dalamnya akar pohon cengkih di tanah Watu Itheng. Ada sesuatu hal yang mengurung keinginannya itu. Apalagi impiannya untuk menjadi sarjana sudah tak mungkin lagi. Terpaksa keiginan tersebut harus dia gugurkan. Gugur seiring daun kering preng kuning yang kerap rontok mengotori genting rumahnya. Lalu, sesekali terlihat burung gelatik membawa terbang daun kering itu untuk membuat sarang di atas celah pinus ireng yang menjulang tinggi.

Kehidupan ekonomi di desa memang tak selamanya menentu. Masyarakat dihadapkan pada dua pilihan yang sangat mencekik. Hal itulah yang menjadi kendala impian Sumirah. Tetap hidup di desa dengan segala kemiskinan dan keterpurukannya atau bekerja merantau ke negeri orang sebagai TKW atau TKI. Begitulah tradisi yang berlaku bagi gadis seusianya. Mereka harus rela menggadaikan masa remaja demi menyulap kehidupan. Menyulap kemiskinan. Sementara itu, keberhasilan wanita-wanita Desa Alas Cendhek yang bekerja sebagai TKW cukup memengaruhi wanita Watu Itheng untuk mengikuti jejaknya. Ditambah lagi, para calo TKW sudah menjalar di desa itu. TKW seakan dianggap sebagai sebuah tradisi.

***

Malam bergulir menjadi pagi. Cahaya fajar dan kabut putih merambahi desa yang seolah sisa dinginnya malam lenyap berganti hangat tersiram sinar mentari pagi. Seperti biasanya, Sumirah bergegas mengambil seikat sapu lidi, kemudian setengah lari menuju halaman rumah. Membersihkan daun-daun kering yang mengotori halamannya itu.

"Inikah hukuman yang menimpa desa ini? Kemiskinan semakin terpuruk. Apakah ini akibat penduduknya kurang mengenal-Mu, Tuhan?" pikir Sumirah ketika sejenak terhenti dari ayunan sapunya.

"Sum... Sumirah, Sum.....!"

Lamunan Sumirah seketika putus, kemudian menolehkan arah matanya pada sumber suara yang memanggil namanya. Dari kejauhan, di balik titik-titik embun pagi, tampak Marmi sedang berlari kecil menuju tempat Sumirah berpijak.

"Sum, rajin bener we," sapa Marmi memulai pembicaraan dengan setengah terputus-putus karena kehabisan tenaga setelah berlari.

''Ah, biasa saja, Mar. Ada apa kok seperti ono sing penting?"

''Itu Sum, teman-teman kita di SMP Pulung dulu sudah habis, Minah, Parmiaten, Minten, Ratna, Kitri, bahkan temanmu sebangku dulu, Jumayah, sekarang sudah di kota. Katanya, sepasar lagi terbang ke Arab. Tepatnya, Kemis legi depan. Ya, kata orang tua dulu Kamis yang jatuh pada hitungan legi merupakan hari baik untuk memulai usaha. Tepatnya disebut lawang rezeki".

''Mengapa to mereka harus menjadi TKW ke Arab, Abu Dabhi, kalau keselamatan dipertaruhkan? Lihat saja Bulek Ndari tahun lalu pulang dengan membawa anak, lalu Mbak Tumi yang baru sebulan di Arab langsung dipulangkan akibat dianiaya majikannya, apa itu yang dikatakan perlindungan?" sahut Sumirah setengah marah, seketika keningnya ikut mengerut.

"Ya, aku sih tak tahu Sum. Tetapi, apa lagi yang harus kita perbuat, apa kita harus tetap di desa dengan segala kemiskinan kita? Kau kan juga tahu Sum, biaya sekolah sekarang mahal. Aku tahu dari Novianti. Dia kan teman kita satu-satunya yang melanjutkan sekolah ke kota. Ya, mungkin lantaran dia anak Pak Lurah Lenjeng. Katanya, harus membayar dua juta, berapa lebihnya sih kurang jelas. Katanya juga buat otonomi komite sekolah begitu. Orang kecil seperti kita mana sanggup. Apalagi panen cengkih juga tak seberapa. Memangnya otonomi karo komite sekolah itu opo to Sum?"

Sumirah hanya menggeleng. Diam. Diam begitu lama.

"Ah, terserah padamu Sum, aku sudah didaftarkan simbokku pada Pak Prayitno, itu penyalur TKW di Alas Cendhek. Aku terserah saja Sum pada hidup ini. Mungkin inilah takdir, nasib, nasib jadi orang cilik. Toh, dadi wong urip iku kudu biso nerimo, syukur karo sing gawe urip. Kehidupan yang bagaimanapun pasti akan musnah, Sum. Ora ono sing adiluhung. Tak ada yang abadi. Tak terkecuali kehidupan kita. Kekayaan, kemiskinan itu sudah ada yang mengatur. Aku pasrah Sum," sudut Marmi dengan tatapan kosong.

***

Pernyataan Marmi semakin membuat hati Sumirah tercengang penuh cemas. Akankah teman-temannya akan menganut tradisi itu? Tradisi yang berujung pada hasil yang tak pasti. Seperti seekor semut hitam di atas batu hitam di malam hari yang gelap gulita. Sangat sulit dilihat. Sulit pula ditebak. Sumirah takut kekhawatiran yang dia rasakan akan terjadi.

Sumirah bertanya-tanya. Apakah tradisi TKW akan tetap mereka anut selamanya? Apakah desanya akan tetap begini selamanya? Apakah anak remaja seusianya akan bernasib sama seperti anak remaja Watu Itheng atau Alas Cendhek? Remaja yang seakan terkurung di dalam sangkar tradisi. Budaya yang menjerat sayap cita dan asa sang remaja untuk terbang. Terbang mewujudkan cita dan harapan.

Begitu lama Sumirah berpikir dan diam. Seketika muncul cahaya harapan di lubuk sanubarinya. Kecemasan lenyap bagai terserang bom atom yang menghancurkan segala kecemasan itu menjadi keping-keping harapan. Dalam hati Sumirah berdesis, "Aku harus bangkit. Bangkit dari segala tradisi buruk yang mengikatku. Aku ingin melanjutkan sekolah, bukan menjadi TKW. Akan kusampaikan pada pohon cengkih dan preng kuning yang seakan kesepian ini bahwa aku ingin kembali. Kembali menjadi remaja yang dapat menggantungkan cita dan harapan pada hari ke depan. Aku harus menebarkan cahaya kemajuan di desaku ini. Entah apa yang kulakukan esok. Yang terpenting adalah menentukan jalan hidupku terlebih dahulu".

Senja datang memeluk erat malam. Angin bersemilir mengelilingi tubuh Sumirah. Angin itu seakan mengubah pola pikirnya. Dia sadar bahwa hidupnya tidak sebatas ditentukan tradisi. Jalan hidupnya hanya ditentukan oleh dirinya sendiri dan tentu saja atas kehendak Tuhan.

Sumirah tak sabar menunggu fajar merambahi desanya esok pagi. Seiring itu, dia ayunkan langkah baru bersama mentari esok pagi. Di atas langit-langit rumahnya, dia menuliskan asa dengan tinta harapan.

"Akulah Sumirah. Gadis desa yang akan menyalakan cahaya kemajuan di desa ini. Tradisi tak dapat mengurung cita dan asaku. Aku ingin berlari sekencang angin. Angin yang membawa jalan kehidupanku. Tersenyum riang menyongsong masa depan. Memburu cita seperti layaknya teman-temanku yang lain di seluruh dunia."

Penulis adalah siswa SMAN 1 Ponorogo


Copyright @2008 IT Dept. JawaPos
Jl. Ahmad Yani 88, Surabaya 60234 Jawa Timur - Indonesia
Phone. (031) 8283333 (Hunting), Fax. (031) 8285555


 
Dari kamar ibu yang tertutup melata kabut. Kabut itu berjelanak dari celah bawah pintu. Merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga merebak ke teras depan.
Awalnya, orang-orang mengira bahwa rumah kami tengah sesak dilalap api. Tapi kian waktu mereka kian bosan membicarakannya, karena mereka tak pernah melihat api sepercik pun menjilati rumah kami. Yang mereka lihat hanya asap tebal yang bergulung-gulung. Kabut. Pada akhirnya, mereka hanya akan saling berbisik, ”Begitulah rumah pengikut setan, rumah tanpa Tuhan, rumah itu pasti sudah dikutuk.”
***
Peristiwa itu terjadi berpuluh tahun silam, pada Oktober 1965 yang begitu merah. Seperti warna bendera bergambar senjata yang merebak dan dikibarkan sembunyi-sembunyi. Ketika itu, aku masih sepuluh tahun. Ayah meminta ibu dan aku untuk tetap tenang di kamar belakang. Ibu terus mendekapku ketika itu. Sayup-sayup, di ruang depan ayah tengah berbincang dengan beberapa orang. Entah apa yang mereka perbincangkan, tetapi sepertinya mereka serius sekali. Desing golok yang disarungkan pun terdengar tajam. Bahkan beberapa kali mereka meneriakkan nama Tuhan.
Beberapa saat kemudian ayah mendatangi kami yang tengah gemetaran di kamar belakang. Ayah meminta kami untuk segera pergi lewat pintu belakang. Ayah meminta kami untuk pergi ke rumah abah (bapak dari ayah) yang terletak di kota kecamatan, yang jaraknya tidak terlampau jauh.
Masih lekat dalam kepalaku, malam itu ibu menuntunku terburu-buru melewati jalan pematang yang licin. Cahaya bulan yang redup malam itu cukup menjadi lentera kami dari laknatnya malam. Beberapa kali aku terpeleset, kakiku menancap dalam kubang lumpur sawah yang becek dan dingin, hingga ibu terpaksa menggendongku. Sesampainya di rumah abah, ibu mengetuk pintu terburu-buru dan melemparkan diri di tikar rami. Napasnya tersengal-sengal, keringatnya bercucuran. Abah mengambilkan segelas air putih untuk ibu, sebelum mengajakku tidur di kamarnya.
Malam itu, abah menutup pintu rapat-rapat dan berbaring di sebelahku. Sementara, di luar riuh oleh teriakan-teriakan, suara kentungan, juga desing senjata api sesekali. Abah menyuruhku untuk segera memejamkan mata.
Subuh paginya, ketika suara azan terdengar bergetar, abah memanggil-manggil nama ibu sambil menelanjangi seluruh bilik. Abah panik karena ibu sudah tidak ada lagi di kamarnya.
Selepas duha, abah mengantarku pulang dengan kereta untanya. Ibumu pasti sudah pulang duluan, begitu kata abah.
Sesampainya di depan rumah, tiba-tiba abah menutup kedua mataku dengan telapak tangannya yang bau tembakau. Dari sela-sela jari abah aku bisa menilik kaca jendela dan pintu yang hancur berantakan, terdapat bercak merah di antara dinding dan teras. Warna merah yang teramat pekat, seperti darah yang mengering. Buru-buru abah memutar haluan, membawaku pulang kembali ke rumahnya. Dari kejauhan aku melihat lalu lalang orang di depan rumah kami yang kian mengecil dalam pandanganku. Orang-orang itu tampak terlunta-lunta mengangkat karung keranda.
”Mengapa kita tak jadi pulang, Bah?” tanyaku.
”Rumahmu masih kotor, biar dibersihkan dulu.” Abah tersengal-sengal mengayuh kereta untanya.
”Kotor kenapa, Bah?”
Abah terdiam beberapa jenak, ”Ya kotor, mungkin semalam banjir.”
”Banjir? Kan semalam tidak hujan, Bah. Banjir apa?”
”Ya banjir.”
”Banjir darah ya, Bah, kok warnanya merah.”
”Hus!”
***
Berselang jam, pada hari yang sama, abah memintaku untuk tinggal sebentar di rumah. Aku tak boleh membuka pintu ataupun keluar rumah sebelum abah datang.
”Jangan ke mana-mana, abah mau bantu-bantu membersihkan rumahmu dulu, sekalian jemput ibumu.”
Aku tak tahu apa yang tengah terjadi di luar sana, tapi hawa mencekam itu sampai kini masih membekas. Selagi abah pergi, aku hanya bisa mengintip keadaan di luar dari celah-celah dinding papan. Di luar sepi sekali. Sangat sepi. Kampung ini seperti kampung mati. Lama sekali abah tak kunjung datang. Jauh selepas ashar, baru kudengar decit rem kereta untanya di depan rumah. Aku mengempaskan napas lega. Menyongsong abah.
Abah tertatih merangkul ibu. Ibu hanya terdiam lunglai seperti boneka. Matanya kosong tanpa kedipan. Rambutnya acak-acakan, tak karuan. Guritan matanya lebam menghitam.
Ketika kutanya abah ada apa dengan ibu, abah hanya menjawab singkat, bahwa ibu sedang sakit. Lalu aku bertanya lagi kepada abah, ayah mana? Dan abah tidak menjawab. Namun, beberapa waktu kemudian, dengan sangat perlahan, abah mulai menjelaskan bahwa hidup dan mati adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya akan didatangi kematian—lantaran mereka pernah hidup. Maka serta-merta aku paham dengan warna merah yang menggenang di teras rumah tadi pagi. Saat itu aku tak bisa menangis. Namun, dadaku sesak menahan ngeri.
***
Semenjak hari yang merah itulah ibu tak pernah sudi keluar kamar, apalagi keluar rumah. Ketika ibu kami paksa untuk menghirup udara luar, ia akan menjerit dan meronta tak karuan. Pada akhirnya, aku dan abah hanya bisa pasrah. Tampaknya ada sesuatu yang rusak dalam kepala ibu. Ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ibu seperti sudah tak peduli lagi pada dunia. Sepanjang hari pekerjaannya hanya diam, sesekali menggedor-gedor meja dan lemari, menghantam-hantamkan bantal ke dinding dan terdiam lagi.
Ibu memang benar-benar sakit. Makan dan minum harus kami yang mengantarkan ke kamarnya. Mandi pun harus kami yang menuntunnya. Berganti pakaian, menyisir rambut, melipat selimut, semua aku dan abah yang melakukannya. Hanya satu hal yang kami tidak mengerti: kamar ibu selalu berkabut.
Lelah sudah kami mengusir kabut-kabut itu dari sana. Kabut yang selalu muncul tiba-tiba. Kabut yang selalu mengepul, setelah kami menutup kembali pintu dan jendela, mengepul lagi dan lagi. Setelah kami tilik dengan saksama, baru kami menyadari sesuatu, bahwa kabut itu bersumber dari mata ibu. Sejauh ingatanku, ibu tak pernah menitiskan air mata. Namun dari matanya selalu mengepul kabut tebal yang tak pernah kami pahami muasalnya. Mungkinkah kabut itu berasal dari air mata yang menguap lantaran tertahan bertahun-tahun lamanya. Entahlah.
***
Pada akhirnya, bagi kami, kabut ibu menjadi hal yang biasa. Kami hanya butuh membuka pintu dan jendela lebar-lebar untuk memecah kabut itu. Namun begitulah, semenjak kami menyadari keberadaan kabut itu, ibu tak lagi sudi membukakan pintu kamarnya untuk kami. Makanan dan minuman kami selipkan melewati jendela kaca luar. Namun sepertinya ia tak lagi peduli dengan makanan. Beberapa kali kami menemukan makanan yang kami selipkan membusuk di tempat yang sama. Tak tersentuh sama sekali. Ketika kami memanggil-manggil nama ibu, tak ada sahutan sama sekali dari dalam, kecuali kepulan kabut yang memudar dan pecah di depan mata kami.
Sementara, kian waktu, kamar itu kian buram oleh kabut yang terus mengental. Kami tak bisa melihat jelas ke dalamnya. Hingga suatu ketika, aku dan abah berinisiatif untuk mendobrak pintu kamar ibu. Kami benar-benar berniat melakukan itu. Kami benar-benar khawatir dengan keadaan ibu. Linggis dan congkel kami siapkan. Beberapa kali kami melemparkan hantaman. Pintu itu bergeming. Kami terus menghantamnya, mencongkelnya, mendobraknya, hingga pintu itu benar-benar rebah berdebam di tanah.
Aku dan abah mengibaskan kabut itu pelan-pelan. Membuka jendela lebar-lebar. Perlahan kami mendapati kabut itu memudar dan pecah. Beberapa saat kemudian kabut itu benar-benar lenyap. Namun kamar ibu menjadi sangat senyap. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada ranjang yang membatu, juga bantal selimut yang tertata rapi. Kami tidak melihat ibu di sana. Aneh, kami juga tidak melihat ibu berkelebat atau berlari keluar kamar. Yang kami saksikan dalam bilik itu hanya kabut yang kian menipis dan hilang.
Kami masih belum yakin ibu hilang. Berhari-hari kami mencari ibu sampai ke kantor kecamatan. Kami juga menyebarkan berita kehilangan sampai kantor polisi. Waktu melaju, berbilang pekan dan bulan, tapi ibu tak juga kami temukan. Hingga keganjilan itu muncul dari kamar ibu. Kabut itu. Kabut itu masih terus mengepul dari kamar ibu, entah dari mana muasalnya. Lambat laun kami berani menyimpulkan bahwa ibu tidak benar-benar hilang. Ibu masih ada di rumah ini, di kamarnya. Kabut itu, kabut itu buktinya. Kabut itu adalah kabut ibu. Kabut yang tak pernah ada kikisnya.
***
Akhirnya, aku dan abah memutuskan untuk mengunci rapat-rapat kamar ibu. Membiarkan kabut itu terus melata. Berjelanak dari celah bawah pintu. Merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga merebak ke teras depan. Kami tak perlu lagi memedulikan ocehan orang-orang yang mengatakan bahwa rumah kami adalah rumah setan, rumah tak bertuhan, rumah yang menanggung kutukan. Karena, kami yakin, tak lama lagi, kabut itu pun akan menelan rumah kami, sebagaimana ia menelan ibu.
Ketika Kabut
Malang, 11-11-11

Penulis :


Cerpen Yudhi Herwibowo (Koran Tempo, 29 April 2012)

SUDAHKAH engkau melihat jejaknya? Tubuhnya yang besar dan lebih tinggi dari orang-orang pada umumnya, telah membuat jejaknya lebih tertanda di tanah. Angin tak akan mudah menghapusnya, dan debu tak akan mudah menutupnya.
Dialah Matu Lesso.
Orang-orang di sepanjang pantai selatan Flores ini lebih kerap memanggilnya Si Pemanggil Hujan, walau ia sendiri lebih suka menyebut dirinya Si Penebar Pasir.
Puluhan tahun lalu semasa ia kecil, ia pernah menemukan seorang laki-laki tua yang hampir mati di desanya yang kering-kerontang. Tubuh tua itu lunglai dan terasa membara, uap panas nampaknya telah menghabiskan sisa-sisa air di tubuhnya. Dan Matu Lesso kemudian memberikan air minum terakhirnya pada laki-laki tua itu.
Dan laki-laki tua itu selamat. Maka sebagai ucapan terima kasih, ia kemudian menyerahkannya tas kulit kecil yang diselempangkannya di pundaknya. Tas yang hanya segenggaman tangan itu hanya berisi pasir.
“Hanya ini yang kupunya,” ujar laki-laki tua itu lirih, “namun ini akan membayar semua tegukan air yang kau berikan padaku.”
Dan laki-laki tua itu kemudian pergi dan menghilang bersama senja.
Matu Lesso sama sekali tak mengerti untuk apa kantung pasir itu. Maka sampai belasan tahun kemudian, ia hanya menyimpan kantung itu di salah satu sudut rumah bebak-nya. Seperti tak terjadi apaapa.
Bagi Matu Lesso kejadian seperti itu telah kerap terjadi. Ia kerap menolong orang laki-laki tua itu. Di desanya yang tak bernama, tak jauh dari Larantuka, kekeringan telah menyatu dalam gerak hidupnya. Hujan sepertinya menepi dari garis edar tanah desanya. Hingga pohon paling tahan air pun enggan tumbuh. Inilah yang membuat tahun-tahun terakhir ini, satu persatu penduduk desa pindah ke desa-desa lainnya yang sedikit lebih bersahabat. Namun karena ayahnya, Papae Lesso, merupakan tua golo, atau orang yang dituakan, di sini, Matu Lesso tak bisa pindah begitu saja. Terlebih lagi, kini ayahnya pun sakit-sakitan. Ia hanya tinggal menunggu air terakhir dari tubuhnya menguap!
Namun beberapa kali, Matu Lesso sempat memohon pada Papae Lesso untuk pindah. Ia bahkan meyakinkan bila sanggup membopong tubuh ayahnya yang renta sampai ke desa sebelah. Tapi ayahnya menolak.
“Ini tanah leluhur kita, kita tak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku akan lebih memilih mati di sini daripada harus meninggalkannya.”
Dan Matu Lesso hanya bisa menurut.
Di saat seperti itulah, saat ia seperti tak lagi bisa berpikir apa-apa, matanya tanpa sengaja melihat kantung pasir pemberian laki-laki tua itu dulu. Entah kenapa ia seperti baru melihatnya sekarang, mungkin karena di rumahnya kini, memang tak banyak lagi barang yang tersisa.
Awalnya ia berpikir untuk menjual kantung pasir itu demi seteguk-dua teguk air. Namun siapa yang akan membeli kantung pasir seperti itu? Maka dengan penuh kekecewaan, ia meraup pasir di dalam kantung itu, dan menaburkannya ke langit dengan penuh kekecewaan.
Sampai beberapa saat tak ada apa pun yang terjadi. Bulir-bulir pasir itu berjatuhan di tanah satu-satu. Namun sejeda kemudian, secara samar ia mulai merasakan satu tetes air di wajahnya.
Dengan tak percaya, Matu Lesso menengadah. Dan satu lagi tetesan kemudian dirasakannya. Lalu, satu lagi, satu lagi berikutnya…. Dan tak berapa lama, hujan tiba-tiba sudah mengguyur tubuhnya. Membasahi tanah yang meranggas selama ini.
Papae Lesso bertanya tak percaya, dan Matu Lesso hanya bisa menggeleng kepalanya tak yakin, “Beta hanya melemparkan pasir-pasir di kantung pemberian laki-laki tua dulu itu, Papae.”
Dan Papae Lesso tertegun.
“Ini pastilah pemberian yang kuasa,” sambutnya sambil menatap kantung itu lekat-lekat. “Kalau memang pasir ini bisa memanggil hujan, kau harus membaginya pada orang-orang yang membutuhkannya.”
Dan setelah berkali-kali ia mencoba, tebaran pasir itu memang selalu mendatangkan hujan. Maka hanya selang beberapa hari kemudian, saat beberapa penduduk mulai kembali ke desa ini, Matu Lesso memutuskan untuk melakukan perjalanan sesuai keinginan Papae Lesso.
Ia berjalan menuju arah matahari tenggelam. Hanya dengan sebuah tongkat dan tas kain berisi dua potong pakaian, dan kantung pasir yang diselempangkan di pundaknya. Di setiap desa yang dilaluinya, ia akan menaburkan pasir dari dalam kantung, dan hujan kemudian selalu menyusulnya beberapa saat kemudian.
Terus seperti itu sepanjang jalan.
Jejak-jejak yang ditinggalkan di belakangnya, mulai terasa basah. Matu Lesso tahu kalau beberapa rumput liar perlahan mulai tumbuh di sana. Ini membuatnya semakin bersemangat untuk terus berjalan ke depan, seakan-akan ia telah menebarkan kehidupan.
Matu Lesso tak pernah menghitung telah berapa hari terlewati. Telah berapa bulan terlalui.
Sampai bertahun-tahun ia menjalani kehidupan seperti itu.
Ia hanya terus menebarkan pasir-pasir itu, tanpa pernah tahu kenapa pasir di dalam kantungnya tak pernah benar-benar habis. Sepertinya, setiap ia mengambilnya segenggam dan hujan kemudian membasahi tubuhnya, tetesan air yang meresap di kantung itu kembali menjadi pasir.
 .
LALU semua orang di Flores dan Timor mengenalnya. Kau pun pasti pernah mendengar tentang kisahnya dari para tua golo-mu. Atau bahkan mungkin mengundangnya untuk datang ke desamu, sekadar mendatangkan hujan.
Dan Matu Lesso akan selalu datang dengan tubuh besarnya, tanpa banyak berkata-kata. Selama puluhan tahun, ia tak henti melakukan itu. Ia pergi dari ujung ke ujung, bahkan sampai menyebrangi Pulau Timor, Rinca dan beberapa lainnya.
Sampai suatu hari, Matu Lesso mendengar kabar dari salah satu penduduk yang baru melalui desanya, bila Papae Lesso telah lama berpulang.
Ini tentu saja memurukkan dirinya. Selama sekian tahun pengembaraannya, ia selalu merindukan pulang untuk menjumpai Papae Lesso. Ia selalu ingin mengetahui bagaimana keadaan kesehatan Papae Lesso? Apakah sakit yang selama ini dideritanya telah sembuh? Ataukah sakitnya semakin parah?
Tapi semua pertanyaan itu hanya bisa menggaung di hatinya. Ia sepertinya tak lagi bisa benar-benar pulang. Orang-orang dari segala penjuru terus memohon padanya untuk menghadirkan hujan di desa-desa mereka. Inilah kadang membuat Matu Lesso berharap agar pasir di kantungnya benar-benar habis, sehingga ia punya alasan kuat untuk dapat pulang.
Dan di saat seperti itulah, ia baru menyadari bila ia telah begitu lelah. Warna kulitnya telah begitu legam. Bajunya telah compang-camping. Dan kakinya telah mengapal sedemikian tebalnya.
Namun entah mengapa kini sepertinya setapak tak lagi bisa dilihat di depannya. Untuk kali pertama sepanjang hidupnya, Matu Lesso seperti kehilangan arah.
 .
DAN Matu Lesso berpikir untuk menepi. Umurnya telah 40 tahun lebih. Kali ini ia benar-benar ingin pulang ke rumah, dan berdoa di depan nisan Papae Lesso.
Maka ia pun memutuskan tak lagi menjadi penabur pasir ataupun pemanggil hujan. Ia ingat, dulu Papae Lesso yang memintanya melakukan ini semua, dan kini setelah Papae Lesso pergi, ia seperti tak lagi berjanji pada siapa pun untuk melakukannya.
Sepanjang jalan menuju desanya, ia hanya berjanji akan melakukan tiga kali tabur pasir untuk memanggil hujan. Setelah itu, ia akan mengikat erat-erat kantung pasir itu, dan memasukkannya dalam tasnya, tak lagi ingin menjamahnya.
Kemudian, setelah melakukan tiga kali janjinya, ia pun pulang. Ia berkata pada orang-orang di desa, bila pasir di kantungnya telah habis. Dan kini ia ingin melanjutkan hidupnya sebagai orang biasa.
Ia kemudian menyimpan kantung pasirnya di sebuah kotak yang digemboknya rapat-rapat, dan gembok itu kemudian dibuangnya di sebuah celah tanah yang dalamnya tak terlihat mata.
Matu Lesso kemudian menikah dengan salah seorang perempuan dari desanya.
Setahun kemudian ia pun memiliki seorang anak.
Sampai sepanjang ini, ia benar-benar telah menjadi orang biasa. Beberapa orang dari desa-desa yang jauh masih mencoba meminta tolong padanya, namun ia selalu menggeleng.
Anaknya kemudian tumbuh di atas tanah yang semakin meranggas. Satu persatu pohon yang dulu mulai tumbuh, kembali mati.
Sampai ketika anak berumur tak lebih dari lima tahun, tak ada lagi sisa air di tanah ini. Semua kembali menjadi seperti dulu.
Dan sang anak pun akhirnya mati karena kekurangan air. Tubuhnya mengeriput dan kulitnya seakan menyatu dengan tulang-tulangnya yang kecil!
Matu Lesso menangis, namun air matanya pun tak sampai bisa menyentuh tanah sebab menguap hilang terlebih dahulu.
Kejadian seperti puluhan tahun lalu, kembali terulang. Satu persatu penduduk kembali pindah mencari desa-desa yang le bih bersahabat. Istrinya pun memintanya pindah, namun ia menolaknya. Ia masih ingat kata-kata penolakan Papae Lesso saat ia memintanya pergi. Dan itu kembali ia ucapkan.
Istrinya tak lagi berkata-kata. Namun beberapa hari kemudian tubuhnya layu, tergeletak dalam dipannya dan mulut kering menganga. Ia benar-benar nyaris mati. Bahkan akar rumput yang dicoba diperas pun tak menghasilkan setetes air.
Matu Lesso tak memiliki pilihan lain. Dengan tenaganya yang tersisa, ia akhirnya kembali membuka peti kayu, tempat dulu ia menyimpan kantung pasirnya, dengan kampaknya.
Dengan tangan gemetar, ia mulai meraup dan menebarkan bulir-bulir pasir dari dalam kantung itu.
Tapi sampai lama, tak ada hujan yang turun. Bahkan sampai ia menebarkan seluruh pasir yang tersisa, tetap tak ada setitik pun air yang jatuh.
Istrinya tak lagi bisa bertahan. Ia mati saat itu juga.
Dan Matu Lesso hanya bisa terpuruk. Jatuh di atas tanah yang seperti membara. Air telah nyaris hilang dari tubuhnya. Matanya berkunang-kunang tak lagi menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Di saat seperti itulah, ia seperti melihat seorang tua menghampirinya dan mengambil kantung pasir yang baru saja dilemparkannya.
Ia tak sadarkan diri.
Namun saat ia kembali tersadar, di genggamannya telah ada kantung pasir seperti sedia kala, dengan bulir-bulir pasir yang memenuhinya.
Dengan gerakan tak percaya Matu Lesso meraup pasir itu kembali, dan menebarkannya dengan sisa tenaganya. Hanya berselang beberapa hirupan napas saja, ia merasakan tetesan air mulai menjatuhi tubuhnya.
Matu Lesso menangis. Bersamaan dengan hujan yang datang, ia tahu apa yang harus dia lakukan.
Ia tahu takdir yang ada pada dirinya!
 .
ITULAH kisah tentang laki-laki penebar pasir, pemanggil hujan. Aku yakin, satu atau dua di antara kalian pernah mendengarnya, atau bahkan menemuinya di tengah perjalanannya di sepanjang pantai selatan Flores.
Tubuhnya masih nampak besar dan jejaknya masih begitu tertanam di tanah meninggalkan kehidupan yang nampak menggeliat di belakangnya. (*)
 .
.
Yudhi Herwibowo tinggal di Mojosongo, Solo. Ia telah menerbitkan sejumlah buku, antara lain novel-novel bertema sejarah seperti Untung Surapati (2011).
Cerpen Martini (Republika, 29 Januari 2012)

SUAMI istri renta itu duduk berdua di bawah rerimbunan pohon-pohon tua nan besar di kebun mereka. Satu batang randu, beberapa batang jati, ada juga pohon sukun dan entah pohon apalagi berjajar tak rapi, menjulang memenuhi kebun.
Kebun itu sempit saja, dengan pinggirannya dipenuhi pokok-pokok kelapa yang sepertinya belum begitu lama ditanam, mungkin baru dua tiga tahun belakangan. Salah satu ujungnya adalah rumah mereka dan ujung yang lain adalah sawah mereka. Tak luas juga, dengan kedalaman yang tak lazim disebut sawah karena terlalu dalam. Bagian tanahnya sudah digali sedalam satu setengah meter atau mungkin juga dua meter. Mereka menyewakannya pada pembuat batu bata beberapa waktu lalu. Setelah masa sewa habis, mereka kembali menanami tanah itu.
Setiap pagi mereka beriringan ke sawah, sebentar kemudian ketika dhuha beranjak naik, mereka pun naik ke kebun. Duduk berdampingan menghadap ke sawah. Si pria duduk menekuk lutut bercelana komprang hitam dan bertelanjang dada. Sementara, si wanita duduk berselonjor kaki berkain jarit selutut dan berkebaya hitam dengan dua lengan bertumpu ke arah belakang tubuhnya. Mereka akan bertahan di sana hingga lewat waktu Zhuhur untuk kemudian kembali beriringan menuju rumah. Setelah Ashar, biasanya mereka muncul lagi di sawah atau kadang mereka tiba-tiba muncul menjelang Maghrib. Tak usah heran kalau aku begitu hafal kegiatan mereka. Mereka tinggal di belakang rumahku.
Sebenarnya, aku belum lama memperhatikan mereka karena memang aku jarang berada di rumah. Tapi, ketika suatu kali aku pulang dan hendak ke masjid dengan langkah-langkah cepat, aku berpapasan dengan salah satu dari mereka. “Masya Allah …!” pekikku dengan kaki mencengkeram tanah dan tubuh condong hampir 45 derajat ke depan. Sosok di depanku pun seketika berhenti dan susah payah mendongak ke atas. Tubuh bungkuknya bertambah bungkuk dengan beban lumayan besar di punggungnya.
Tindak mesjid Mas Tomo? (Mau pergi ke masjid Mas Tomo?)”, suara serak si nenek tak menunjukkan kekagetan. Wah, masih awas juga pengelihatannya.
Aku mengangguk, entah terlihat entah tidak. “Mau ke mana, Mbah?” Aku melirik ke punggungnya.
Niki lho mas, ndugekke gori pesenane Welas, monggo.… (Ini lho Mas, mengantar nangka pesanan Welas, mari ….)”, jawabnya berlalu dari hadapanku.
Aku meringis bingung. Ini sudah Maghrib, tentu saja hari tak terang lagi. Yu Welas rumahnya di seberang tanah persawahan yang lumayan luas. Berarti Mbah Kromo tadi harus menyeberangi sawah-sawah tanpa penerangan, ditambah lagi tiga parit irigasi yang melintang di antara sawah-sawah tersebut. Membayangkan itu, aku pun berlari mengejar Mbah Kromo, jikalau bisa mengantarnya setelah Maghrib. Tapi sepertinya, Mbah Kromo sudah masuk ke salah satu pematang sawah yang rumpun-rumpun jagungnya mencapai puncak tertinggi yang banyak berjajar di tiap batas sawah. Tubuh bungkuknya tentu saja tak jelas terlihat. Karena kebungkukannya sudah luar biasa, tepat sembilan puluh derajat ke depan. Sementara, masjid kampung sudah menyuarakan ikamah. Sekarang, aku pun bergegas berputar arah, tak ingin ketinggalan jamaah.
Mulai saat itu, aku jadi memperhatikan mereka. Usianya sudah lebih dari 65 tahun. Si kakek jika berjalan sudah sangat kerepotan dengan posisi lutut menekuk ke depan dan bagian perut ke atas hampir menengadah. Dia bungkuk ke belakang. Kemudian si nenek, ya itu tadi bungkuk ke depan tepat 90 derajat dengan tambahan lutut yang juga menekuk ke depan. Dua-duanya selalu menggunakan bantuan tongkat saat bepergian.
Mereka tinggal berdua saja di rumah mereka, di belakang rumahku. Dua anak perempuan mereka telah menikah dan tinggal bersama suami masing-masing, tapi masih di desa itu juga. Kehidupan anak-anak mereka juga berkecukupan, setiap pagi bergantian mengantar makanan untuk dua orang tua tersebut. Beberapa kali mereka membujuk sepasang orang tua itu untuk tinggal dengan salah satu dari mereka, tapi selalu ditolak. Mereka memilih tinggal di rumah berdua dan tetap bekerja keras di sawah mereka.
Aku sendiri heran, untuk apa mereka bekerja sekeras itu. Sangat miris melihat kakek tua itu mengayunkan cangkulnya, oh, bukan kakek tua yang mencangkul, tapi sang nenek. Karena tentu saja kakek tua itu kesulitan mencangkul, lihat saja kondisi badannya. Kakek tua lebih banyak melakukan pekerjaannya dengan duduk, tak peduli tanah sawah yang berlumpur.
Pernah suatu kali, hari sudah mulai gelap, azan Maghrib tinggal beberapa menit lagi. Dua kakek nenek itu tampak masih sibuk di sawah mereka, masih berjibaku dengan dengan lumpur. Sampai akhirnya mereka beranjak juga saat azan sudah hampir usai. Aku asyik terpaku mengamati mereka dengan sarung di tangan. Tiba-tiba tubuh bungkuk nenek tua itu jatuh tersuruk memeluk pematang sawah. Kakek tua yang kaget menengok dan kehilangan keseimbangan dan jatuh terpelanting. Tak hanya memeluk pematang, tapi jatuh tercebur ke genangan sawah yang penuh lumpur. Secara refleks aku berlari dan membantu mereka bangkit.
Mbok sudah to Mbah, di rumah saja. Istirahat, perbanyak ibadah,” kataku spontan mengeluarkan unekunekku.
“Walah … Mas Tomo itu, seperti kiai saja bicaranya,” kata Mbah Kromo setelah pulih keseimbangannya. Sedang kakek Kromo susah payah melangkahkan kakinya yang menjadi sangat licin berbalut lumpur. Aku melongo, sedikit geli, banyak prihatin. Bukan hanya terpaksa ketinggalan jamaah, bahkan aku harus mengulang mandiku tadi sore karena lumpur di beberapa bagian tubuhku.
“Sudahlah Mas, bisa stres kamu ngurusin orang tua itu,” kata Ibu menggeleng-nggelengkan kepala. “Mas” adalah panggilan kebesaranku di rumah, pemberian ibu untuk anak pertamanya ini. Ibu bukanlah wanita yang tak punya kepedulian terhadap sepasang kakek nenek tetangga kami itu. Tadinya justru ibulah yang paling peduli pada mereka. Berbagi makanan sudah biasa, mengingatkan dan mengajak ke masjid atau ke pengajian rutin dilakukan. Tapi, sekian lama usahanya tak membuahkan hasil, ibu memilih menghentikan aksinya. Bahkan, kadang bersikap tak peduli. Mungkin beliau terlalu berambisi hingga akhirnya jatuh kecewa.
Memang mengenaskan, mereka sama sekali tak menjalankan shalat lima waktu meski beragama Islam. Bahkan shalat Idhul Fitri dan Idhul Adha yang setahun hanya sekali pun belum pernah mereka kerjakan. Padahal, orang-orang tua lain yang seangkatan mereka yang tadinya tak menjalankan shalat kini banyak yang berubah. Ingat umur dan ajal, kata mereka. Tapi, tidak dengan dua orang tua ini. Mengapa Allah menutup hati mereka begitu kuat, entahlah.
Suatu hari aku bertemu dengan Aris, cucu kakek dan nenek tetanggaku itu. Dia sebaya denganku. Dia Sukses membuka sebuah bengkel variasi motor.
“Wah … hebat kamu Ris, ternyata kamu mewarisi jiwa kerja keras kakek nenekmu,” kataku sedikit bercanda.
“Ah, kau bisa saja Tom, apa kabar mereka? Sudah lama tak berkunjung ke sana,” Aris menjawab sambil sibuk dengan motor di depannya. Aku pun bercerita tentang mereka pada Aris lengkap dengan keherananku. Aris menghela nafas, menghentikan pekerjaannya dan duduk di sampingku.
“Itu juga yang dipikirkan ibuku, Tom. Ibuku merasa sudah kehabisan cara untuk membujuk si mbah. Ibu juga tak mengerti, mengapa mereka tetap ingin bekerja sekeras itu hingga meninggalkan kewajiban sebagai orang Islam,” kata Aris.
“Doa, Ris, mungkin selama ini kalian kurang mendoakan si mbah,” jawabku menepuk pundak Aris. Aku yakin Aris paham, dia dulu ketua remaja masjid kampung kami.
Bekerja keras memang tak ada salahnya, dianjurkan malah. Tapi, ketika kondisi sudah tampak seperti memaksakan diri, hal itu jadi terlihat aneh, berlebihan. Entah ambisi jenis apa itu. Kebutuhan hidup sudah tercukupi, tagihan tak ada lagi, ingin apa sudah ada yang siap melayani.
Sedang seruan untuk segera menjalankan perintah-Nya sudah menanti. Waktu untuk hidup jelas sudah tak lama lagi. Lalu, apa yang dicari? Menumpuk harta seperti Qorun? Ah, aku menghalau pikiran yang tak tentu. Kuingat lagi kata Allah dalam kitab-Nya, surat al-Ghasyiyah ayat 22 bahwa kita bukan penguasa mereka, tugas kita hanya mengingatkan. Hidayah hak prerogatif Allah.
Maka, ya sudahlah, tiap kali mudik di akhir minggu, aku tetap ke masjid lewat depan rumah mereka. Seperti biasanya, mereka selalu tampak sedang leyeh-leyeh kecapaian. Dan, selalu masih kusapa mereka dengan sapaan yang sama tiap minggu.
Monggo Mbah (Mari Mbah).”
Nggih Mas Tomo, monggo… (Ya, Mas Tomo, mari…),” jawab mereka selalu.
Beberapa minggu berlalu, aku tak pulang di akhir minggu. Dan, betapa terkejutnya saat pulang kujumpai rumah sepasang kakek nenek itu sudah rata dengan tanah. Tak sabar kutanyakan pada ibu apa yang terjadi.
Dari cerita ibu, tahulah aku apa yang terjadi. Dini hari Jumat, seminggu yang lalu rumah mereka terbakar, konsleting listrik. Tak segera diketahui karena semua orang sedang lelap-lelapnya tidur. Termasuk pasangan si mbah tersebut, mereka baru sadar setelah api sangat besar. Dan, tentu saja kondisi tubuh mereka tak dapat dikompromikan untuk bergerak cepat menyelamatkan diri. Kakek Kromo meninggal beberapa saat setelah diselamatkan dari kobaran api, sedang nenek Kromo meninggal Sabtu pagi di rumah sakit. Entah perasaan apa yang muncul di benakku, aku bingung doa apa yang harus kupanjatkan untuk mereka. Akhirnya, aku memilih tak mendoakan apa-apa. (*)
 .
.
Penulis lahir di Cilacap, 1 Maret 1984. Saat ini aktif sebagai pengajar di SIBI BIAS Temanggung, Jawa Tengah.
.
Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 15 April 2012)

PEREMPUAN itu menyebutnya kuda. Maka ia merasa dirinya sebagai kuda berbulu putih, kuda yang biasa ditunggangi oleh tokoh utama dalam film-film koboi: agak jinak, tapi pada saatnya bisa berlari tak kenal letih untuk menopang sang penunggang yang harus menyelesaikan tugas berat menghabisi para perampok dan lelaki-lelaki kasar. Ia menyukai gambaran diri yang seperti itu.
“Naiklah ke punggungku,” katanya.
Perempuan itu beringsut, merapatkan dirinya, seperti kucing menggesekkan bulu-bulunya  ke kaki majikan. Perempuan itu menggeseknya. Dan ia masih membayangkan dirinya sebagai kuda jantan, putih dan tampan, dan berderap menyusuri padang terbuka. Dengan empat kaki perkasa yang meninggalkan kepulan debu di belakangnya, ia menjelajahi rumput-rumput dan kerikil-kerikil tandus. Suara orang-orang di ruangan judi terdengar sayup-sayup. Di ruangan lainnya, ia berderap menjauh, mengangkut seorang putri di punggungnya, sampai hilang semua suara.
Dinihari ia meninggalkan tempat itu dan tidak muncul pada beberapa malam berikutnya dan baru datang lagi ke sana dua minggu kemudian. Itu kunjungannya yang kedua dan itu kunjungan yang celaka. Alit merasa bahwa rumah judi itu tidak menyenangkan ketika malam kian larut. Ada seorang pendatang baru yang masuk ke ruangan dengan lagak yang akan membuat matamu pedih. Orang itu mengenakan pakaian mewah dan ia sungguh tidak pas dengan pakaian yang dikenakannya. Beberapa orang yang menyertainya menunjukkan tabiat terkutuk. Ketika orang berpakaian mewah itu menyelipkan rokok di bibirnya, tiga orang berebut menyalakan korek api.
Alit berharap nyala korek api membakar bibir empal lelaki itu. Dan kemudian lelaki itu marah lalu menghantamkan apa saja yang dipegangnya ke paras para penjilat yang menyertainya. Itu akan menjadi tontonan bagus di arena judi yang mulai terasa tidak menyenangkan.
Lelaki itu penjudi yang baik dan ia segera membuat beberapa orang bangkrut. Lalu perempuan itu muncul, mengenakan gaun yang terbuka hingga ke bagian lembah kedua gunungnya, dan ia merangkul lelaki itu. Alit merasakan nafasnya berat. Perempuan itu menyebutnya kuda dua pekan lalu dan Alit kembali ke tempat itu tetap dengan membayangkan diri sebagai kuda, tetapi perempuan itu seperti tidak melihatnya.
Situasi peperangan merambat pelan-pelan di ruangan, merambat di dada yang sesak. Alit mendengar ringkik setan di telinganya. Ia ingin sekali menjambak perempuan itu atau menarik pakaiannya hingga perempuan itu telanjang bulat. Perempuan itu tampaknya bangga dengan gunung-gunung yang menjulang di dadanya, dan ia suka sekali menggeser-geserkan puncak gunungnya ke lengan atau punggung si lelaki kaya, dan jari-jarinya terus memijit bahu lelaki itu.
Itu bukan pemandangan yang baik bagi lelaki yang mulai bangkrut. Alit menyandarkan punggungnya pada dinding dekat lukisan sembilan ikan di kolam teratai. Lukisan jelek yang konon bisa mendatangkan rezeki berlimpah di ruangan itu. Ia merasakan semak-semak tumbuh di dadanya, ia merasakan rumput-rumput liar dan tanaman berduri menyakiti jantungnya. Mestinya ia keluar dari ruangan itu sebelum dada dan jantungnya koyak-moyak oleh ilalang dan duri-duri yang meliar di dadanya.
Namun ia bertahan, mencoba menenteramkan diri sendiri dengan membuka kancing atas bajunya. Ruangan itu pengap, sesuatu yang tidak dirasakan oleh Alit pada kunjungan sebelumnya, dan asap rokok membuat matanya pedih. Perempuan bergunung menjulang itu membuatnya semakin pedih. Dua pekan lalu perempuan itu menggelendot di dadanya. Malam itu ia bergelayutan di lengan lelaki empal. Dan Alit baru saja bangkrut. Kau tahu, lelaki yang bangkrut di meja judi harus mau menerima nasib terburuknya. Ia bahkan tak bisa berbuat apa-apa terhadap orang di depan mata yang berkhianat kepadanya.
Ia mencoba menenteramkan diri dengan pikiran sekenanya bahwa seorang pengkhianat memang akan selalu berkhianat. Ia lari darimu dan menusuk punggungmu justru pada saat kau bangkrut dan tak berdaya.
Angin dari baling-baling ruangan seperti menghembuskan panas yang menyiksa. Baling-baling besar yang berputar mengeluarkan suara berderit-derit. Alit ingin sekali menyeret perempuan itu dan menggantungnya di sayap baling-baling. Pengkhianat yang memedihkan mata, kau tahu, pantas diperlakukan apa saja.
Alit merasakan tarian serigala di pelupuk matanya, mungkin tarian para jahanam yang mengejeknya. Dan perempuan itu terus menyakiti. Ia memperlihatkan gerak-gerik mesum di depannya. Tetapi Alit mungkin keliru. Jika kau ada di antara mereka, kau akan tahu bahwa sebetulnya perempuan itu nyaris tidak bergerak sama sekali. Ia hanya menggelendot, membelit lengan si pemenang, lelaki kaya yang lagaknya tidak pantas, tetapi Alit telah menafsirkan gerak semacam itu sebagai gerak-gerik mesum yang mengejek kebangkrutannya.
Lelaki yang bangkrut, kautahu, sering membangun dunia yang muram. Sementara perempuan itu bertindak praktis saja; ia tidak peduli pada lelaki yang bangkrut. Ia nyaris tidak pernah mengangkat muka. Alit berharap perempuan itu mengangkat muka dan mereka akan saling bertatapan, mungkin sedetik, dan ia akan melemparkan pandangan yang paling menghina kepada perempuan itu. Mungkin ia akan meludah ke lantai dengan ekspresi berlebihan saat mereka saling bertatapan.
Begitulah, di kepalanya berlangsung segala rencana. Itu membuat Alit merasa kepalanya kian berat dan ia ingin meninggalkan tempat itu, meninggalkan pemandangan yang membuat matanya pedih. Akan tetapi pada saat yang sama ia juga ingin terus bertahan di sana. Ia ingin tahu apa saja yang akan dilakukan oleh perempuan itu selain menggelayuti lengan si lelaki berpakaian mewah. Ia ingin tinggal di sana selamanya, menyaksikan sampai sejauh mana seorang pengkhianat akan memeragakan seluruh tindak-tanduknya.
Dorongan yang saling bertentangan itu membuat kaki-kakinya mengeras dan hawa dingin terasa menjalar dari kakinya, merambati tulang belakangnya, dan ia merasakan kaki-kakinya seperti batang besi yang berkarat, kaku dan ngilu. Ia mencoba melemaskan kekakuan itu dan matanya tertuju pada topeng-topeng hiasan di dinding depannya. Tiba-tiba ia ingin mengenakan topeng yang mana saja. Ia tak sudi menunjukkan tampang yang tersiksa di depan perempuan itu. Ia tahu bahwa saat itu tampangnya mungkin sangat tersiksa. Karena itu ia ingin membungkus wajahnya dengan salah satu topeng yang tergantung di dinding.
Ia mengutuki pikiran yang mengada-ada. Ia mengutuki perempuan itu dalam hatinya. Belum lama perempuan itu menggelayuti lengannya; tetapi perempuan itu sepertimya tidak punya kenangan sama sekali. Hanya berselang dua pekan dan perempuan itu menyebutnya kuda pada pertemuan pertama mereka.
Ini kali kedua Alit mengunjungi tempat itu, dan ia datang dengan cinta berkobar-kobar, dengan tekad yang membakar seluruh dirinya. Ia ingin melarikan perempuan itu, membawanya melintasi padang-padang terbuka, menghirup udara di luar sana. Ia jatuh cinta pada perempuan itu, pada lenguhannya yang pertama, dan ia mengembangkan hasrat penyelamatan yang luhur ketika perempuan itu menggayutkan tangan di lengannya.
“Pergilah bersamaku,” katanya waktu itu.
Perempuan itu mengikik dan membekap mulut lelaki ingusan yang baru sekali itu bertemu dengannya.
“Bukalah bajumu,” kata perempuan itu. “Aku tak bisa berlama-lama.”
Perempuan itu menyebutnya kuda ketika ia membuka bajunya dan ia ingin perempuan itu naik ke punggungnya. Akan dibawanya perempuan itu lari dengan kaki-kakinya yang kokoh dan lincah. Tetapi kini kakinya seperti besi karatan. Dan tekadnya layu seketika. Perempuan itu tak memiliki kenangan.
Dengan langkah yang payah, ketika pemandangan di depannya makin tak tertahankan, Alit akhirnya keluar dari tempat itu. Ia datang lagi besoknya, namun perempuan itu tak ada. Ia keluar tak lama kemudian dengan mulut terkunci rapat-rapat, tetapi hatinya terus meracau. Sebetulnya ia ingin berteriak dan memaki nama perempuan itu sebelum keluar, tetapi ia tidak melakukan apa yang ia inginkan.
Ia sempat pergi sebentar ke kamar kecil tadi, menutup pintunya dan menguncinya. Ia ingat ada cermin rompal di dinding kamar kecil itu. Di sana ia ingin melihat wajahnya sendiri.
Alit mencoba tersenyum di depan cermin tetapi tampangnya sungguh kocar-kacir. Lalu ia benar-benar meninggalkan tempat judi itu tanpa mampu memperbaiki situasi tampangnya. Ia tetap kocar-kacir ketika sampai di rumah dan malam itu tak mudah baginya untuk memejamkan mata. Semalaman ia mendoakan segala kemungkinan terburuk bagi perempuan itu: semoga lelaki dower yang ia gelayuti menulari penyakit ganas yang tak bisa diobati. Semoga ia mati mendadak oleh bibir beracun lelaki itu.
Beberapa hari kemudian, setelah mengumpulkan uang sebisa-bisanya, ia datang lagi ke tempat judi itu. Perempuan yang ia doakan seburuk-buruknya itu tetap tak ada. Beberapa kali selanjutnya ia masih mendatangi tempat itu, tetapi ia tak pernah bertemu lagi dengan perempuan itu. Tiba-tiba terpikir olehnya, mungkin permpuan itu mati, mungkin doanya terkabul dan perempuan itu mati seketika.
Sampai sekarang, hampir dua puluh dua tahun sejak perempuan itu menyebutnya kuda, Alit kadang-kadang masih bertandang ke tempat itu dan ingin menanyakan kabar perempuan itu kepada orang-orang yang dijumpainya di sana. Namun ia tak pernah mengajukan pertanyaan. Ia selalu singgah sebentar ke kamar kecil sebelum meninggalkan tempat itu, mencoba tersenyum, dan mendapati bahwa situasi tampangnya memang sudah tidak bisa diperbaiki. (*)

Barangkali aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Segalanya terasa sebagai kesenduan di kota ini. Gedung-gedung tua dan kelabu, jalanan yang nyaris lengang seharian, deretan warung kelontong dan kafe-kafe sunyi dengan cahaya matahari muram yang mirip kesedihan yang ditumpahkan. Kota ini seperti dosa yang pelan-pelan ingin dihapuskan.
Bila suatu kali kau berkunjung ke kota yang terletak di lekuk teluk yang bagai mata yang mengantuk ini, kau sesekali hanya akan bertemu dengan satu dua orang tua yang berjalan malas atau pemabuk yang meringkuk mendengkur di bangku-bangku taman. Bila kau perhatikan dengan cermat, setiap perempuan yang kau temui di kota ini selalu berjubah dan kerudung hitam, seolah-olah mereka terus berkabung sepanjang hidupnya, seolah-olah mereka semua adalah rahib kesedihan. Dan bila kau memperhatikan lebih cermat lagi, lebih teliti, maka kau akan segera tahu: hampir dari mereka semua, buta!
Ada banyak kisah–setidaknya yang pernah aku dengar–kenapa semua penduduk di kota ini buta. Jagat raya semula hanyalah gugusan cahaya. Cahaya yang kuning keemasan. Lalu ruh sepasang manusia pertama tercipta dari cahaya itu. Berbentuk percik cahaya. Kekuningan. Serupa kunang-kunang. Sepasang ruh yang serupa kunang-kunang itu kemudian turun ke dunia, begitu kisah leluhur, lalu berdiam di tubuh manusia, yang semula, hanyalah serupa batang-batang pohon. Tinggi menjulang, diam bagai pertapa. Ruh yang serupa kunang-kunang itu hinggap di tubuh manusia, sebagai sepasang mata, hingga manusia hidup dan bisa melihat dunia. Ketika manusia mati, ruh itu kembali terbang, menjelma kunang-kunang. Dan manusia kembali buta.
Kisah lain datang dari muasal teluk yang terletak di Utara kota ini. Teluk Duka Cita, begitu orang-orang di kota ini menyebutnya. Pangeran Ketiga dan Putri Kelima, mereka sekandung anak Raja Pertama, saling jatuh cinta, dan waktu, juga maut dan mampu menghentikannya. Karena tak tahu lagi bagaimana cara menghentikan cinta terlarang dua saudara sekandung itu, Permaisuri, sembari terisak meminta syarat yang menurutnya muskil dipenuhi: dalam semalam mereka harus menyediakan kunang-kunang, yang bila dihamparkan dengan rapi, sanggup menutup seluruh permukaan teluk. Cinta yang buta memberi mereka akal, juga kekejaman. Dengan menggabungkan sihir yang dimilikinya, Pangeran Ketiga dan Putri Kelima, memanggil semua kunang-kunang yang ada, bahkan mereka diam-diam menambahi kunang-kunang itu dengan mata para penduduk yang telah mereka congkel, dan mereka sihir menjadi kunang-kunang. Melihat itu, Raja segera menyuruh para prajurit menebah kunang-kunang yang telah berhasil dikumpulkan itu agar kembali terbang. Maka, meski telah ratusan mata dicongkel untuk menggenapi kunang-kunang agar bisa menutupi seluruh permukaan teluk, hingga pagi tiba, masih ada sebagian teluk yang tak tertutup kunang-kunang. Pangeran Ketiga dan Putri Kelima mengeram marah, ketika mengetahui cara licik Raja menggagalkan cinta mereka. Di hadapan Raja dan Permaisuri, mereka langsung saling menusuk jantung masing-masing, sambil mengutuk: mereka akan mengambil semua mata seluruh penduduk dan keturunan yang hidup di kota ini, hingga siapa pun yang tak harus menanggung dosa menjadi buta. Kemudian mayat keduanya jatuh ke dalam teluk.
Tak ada muda-mudi kota ini yang berani berpacaran di teluk itu. Bila nekat, sepulang dari sana, mata mereka buta.
Kisah yang ini, barangkali, akan lebih kau percaya. Bermula dari kedatangan pasukan asing, dan perang saudara yang berlangsung bertahun-tahun setelahnya. Banyak warga yang kemudian dicap pemberontak. Mereka yang dituduh mata-mata pemberontak, langsung ditangkap dan dicongkel matanya. Andai saat itu kau ada di kota ini, jangan kaget, bila seseorang yang kau jumpai pada sore hari, telah menjadi buta pada pagi harinya. Ada gereja tua, yang dianggap menjadi sarang pemberontak, dan pasukan asing itu mengepungnya. Seluruh yang ada di dalamnya diseret keluar dan dikumpulkan di pekuburan yang berada di belakang gereja. Mereka langsung dihabisi dengan serentetan tembakan. Peristiwa itu selalu diperingati dengan misa paling murung di kota ini.
Seperti diriwayatkan leluhur, ruh mereka yang mati akan kembali menjadi kunang-kunang. Bila malam hari, kau bisa menyaksikan puluhan kunang-kunang terbang berkitaran dari arah pekuburan di belakang gereja itu. Atau berjalanlah menyusuri kesunyian lorong-lorong kota ini malam hari, maka kau akan selalu berpapasan dengan kunang-kunang, yang melintas sendirian, atau bergerombol, seakan-akan mereka adalah sebuah keluarga yang sedang jalan-jalan. Jangan kaget, bila tiba-tiba pundakmu seakan ada yang menepuk, dan kau mendapati seekor kunang-kunang telah hinggap di pundakmu. Tak terlalu banyak penerangan di kota ini. Satu-satunya pembangkit listrik yang tersisa hanyalah berasal dari kincir air yang letaknya jauh di luar kota dan sudah payah tenaganya. Para pasukan asing dan penguasa telah lama melupakan kota ini, bagai hendak melupakan dosa mereka dari ingatan mereka. Kota itu terasa murung dan kelabu di siang hari. Dan tanpa penerangan listrik yang cukup, di malam hari kota ini seperti dikuasai kegelapan yang ganjil. Kegelapan yang dipenuhi kunang-kunang yang bagai muncul dari lorong-lorongnya yang paling gelap.
Atau berjalanlah kau menyisir tepian teluk, maka kau akan menyaksikan ribuan kunang-kunang terbang nyaris menyentuh permukaan airnya yang bagai pulas tertidur. Ribuan kunang-kunang itu seolah ruh yang bangkit dan ingin membebaskan diri dari cengkeraman kutukan masa silam yang kelam. Kadang kau bisa mendengar suara mereka bernyanyi dengan kepedihan yang begitu memilihan. Seperti koor ruh yang purbawi.
Cahaya kunang-kunang akan membuat jalanan kota di malam hari menjadi tampak berpendaran kekuningan, seperti ada mata yang terus menyala dari balik kegelapan. Kau akan melihat kunang-kunang itu bergerombol memenuhi warung dan kafe-kafe, seakan tengah mengobrol. Kau akan menyaksikan kunang-kunang itu hinggap di tiang listrik yang mati, hingga tiang listrik itu terlihat seperti pohon yang menyala kekuningan. Ketika segerombolan kunang-kunang hinggap di serimbun perdu atau tumpukan batu, maka perdu dan batu itu seketika menyala berpendaran. Diding-dinding yang telihat kusam dan tua di siang hari, menjadi berkilauan di malam hari. Dan sebuah pohon meranggas, bisa saja seketika langsung menyala kekuning-kuningan, seakan hiasan lampu jalan atau pohon Natal.
Ada yang hidup di malam hari di kota ini, yang tak hidup di siang hari.
Sebenarnya pernah, suatu saat, kota ini mencoba hidup dan berbenah diri. Banyak pendatang yang mencari peruntungan. Tapi barangkali kota ini memang kota yang ingin dilupakan, atau dilenyapkan. Selalu saja ada hal-hal kecil yang sepertinya sengaja diciptakan untuk menjadi kerusuhan. Pembunuhan dan perkelahian. Rumah ibadah yang dibakar. Penembakan dan ledakan bom. Kota ini menjadi kota yang selalu dipenuhi permusuhan dan kerusuhan. Iman menjadi sesuatu yang menakutkan. Desas-desus tantang pasukan bertopeng yang suka menculik dan mencongkel mata siapa saja yang ditangkapnya, membuat bergidik para warga yang kemudian memilih meninggalkan kota ini. Hingga kota ini tinggal dihuni orang-orang yang sebagian besar telah buta, dan kunang-kunang.
Apalah yang layak diceritakan dari kota yang murung dan hanya didiami orang-orang buta dan kunang-kunang seperti aku ini? Aku, seperti ribuan kunang-kunang lain di kota ini, hidup dalam kesunyian cahaya. Kami seperti menanggung beban masa silam yang sampai kini tak pernah bisa kami pahami. Sebagai ruh, kunang-kunang seperti kami, hidup abadi. Tapi apalah arti keabadian bila kami hidup dalam kesunyian yang tak tertanggungkan seperti ini? Kami hidup untuk melupakan apa yang telah terjadi pada kami. Aku sendiri selalu ingin melupakan ingatan buruk itu. Ketika suatu malam, saat aku masih hidup sebagai manusia, berjalan pulang seusai pesta dansa. Di kelokan jalanan gelap, beberapa orang bertopeng menyergap dan meringkusnya. Aku tak sempat menjerit dan melawan ketika kurasakan belati tepat menikam jantungku. Pada detik terakhir aku hanya sempat merasakan kesakitan yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata, tepat, saat mereka mereka mencongkel mataku. Pada detik terakhir itulah, ruhku keluar dari tubuh, dan menjelma kunang-kunang.
Peristiwa itu terjadi sebulan sebelum Natal. Setelah peristiwa itu, terjadi kerusuhan dan kebakaran, yang menghanguskan nyaris sepertiga kota. Bekas yang disisakannya, berupa onggokan arang kebakaran, bila dilihat dari ketinggian, seperti luka sayatan pedang, yang mengiris wajah kota. Kesakitan yang akan lama kekal dalam ingatan.
***
Dan inilah kali pertama aku akan merayakan Natal sebagai kunang-kunang. Mengenang dan memikirkan apa yang telah terjadi di kota ini, aku diluapi kesedihan, yang membuatku sepertinya akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Ah, aku merasa, aku hanya terlalu dikuasai kesedihan. Mereka yang sudah lama menjadi kunang-kunang, mungkin pernah mengalami perasaan sentimentil seperti ini, tetapi akhirnya menjadi terbiasa. Perasaan sentimentil itulah, yang barangkali, membuatku ingin menceritakan semua kisah ini, kepadamu.
Pada malam Natal di kota ini, kau akan menyaksikan kunang-kunang bermunculan dari penjuru kota, yang bergerak melayang menuju gereja tua, di mana dulu pernah terjadi pembantaian. Kunang-kunang itu memenuhi gereja. Hingga gereja menjadi terang benderang berkilauan kuning keemasan. Pada fresko di belakang altar, kacanya yang buram dan sudah pecah di beberapa bagian, cahaya kunang-kunang itu menampakkan diri bagaikan aura para santa, membuat salib Kristus yang menjulang seolah diselubungi cahaya kesucian yang lembut dan meneduhkan. Sementara para jemaat, yang nyaris sebagian besar renta dan buta, para perempuan yang murung sepanjang hidupnya, mengikuti misa dengan keheningan jiwa yang membuat segala suara di sekitarnya seperti terhisap lesap. Pada saat-saat seperti itu, suara pelan daun yang melayang jatuh menyentuh rerumputan, akan terdengar jelas di telingamu.
Ubi caritas et amor, Deus ibi est
Simul ergo cum in unum congregamur
Ne nos mente dividamur, caveamus
Cessent iurgia maligna, cessent lites
Et in medio nostri sit Christus Deus….
Nyanyian itu, nyanyian itu, membuat aku tak kuasa menahan sedu. Aku membayangkan kota yang terang, teluk yang lembut dan menguarkan kesegaran yang tak terjamah musim. Kotaku, kotaku, yang sesungguhnya elok ini, kenapa engkau ditinggalkan para penduduk yang mencintamu dengan seluruh nestapa dan duka cita?
Keheningan misa mendadak pecah oleh ledakan. Para jemaat yang buta berlarian dan tersandung hingga terjerembap. Aku melihat api berkobar dari arah samping gereja. Seperti ada yang melemparkan bom molotov. Seperti ada ledakan granat atau entah apa yang tak pernah aku tahu. Mungkin seseorang telah menyelusup ke dalam gereja dan meledakkan diri. Dan api makin berkobar. Sebentar lagi, mungkin gereja ini akan terlalap api dan memusnahkan semua kunang-kunang di dalamnya.
Sebelum api itu juga menghanguskanku, mungkin aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini yang masih sempat menceritakan semua ini kepadamu.

Ambon, 2011