Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 15 Juli 2012)
PERNAH kuceritakan padamu tentang kota-kota hikayat
yang sudah tamat, sebagian mencoba bangkit, sia-sia. Ada yang berhasil
tegak, meski tak sampai jaya, yang lain lenyap, hilang berita, terhapus
dari peta. Bagaimana pun, puji sanjung baginya hanya sempurna dalam
cerita dan kaji lama, sesekali membubung puja-puji serupa doa dari
buku-buku sejarah berdebu tua, penuh ngengat, tak terbaca. Begitulah
kuamsal Barus, Singkel, Demak, Kudus, Gresik, Tidore, Malifut, Tiku,
Siak, Bandar Sepuluh! Itu kota-kota hikayat yang pernah kusebut, penuh
takjub, kini menjadi milik sang waktu.
Dunia berubah. Berkali-kali berubah dengan jalur, peta dan
kebutuhannya yang tak terduga; yang lama dibuat lindap, yang baru timbul
gemerlap. Ingatlah, Jalur Sutra memintas Asia—separoh dunia—lewat
darat; Jalur Keramik di samudera raya, memunculkan kota-kota kuno sarat
kejayaan, sebagaimana kau hapal, Sriwijaya atau Trowulan. Lalu semuanya
perlahan surut, berganti kota-kota syiar yang semarak dalam syara’ dan
Kitabullah. Itulah yang kumaksud kota-kota hikayat, begitulah akhirnya
ia tumbuh, dan runtuh juga.
Tanpa jubah dan salam suci, segalanya berganti di luar kendali wali
dan istana. Perahu, kapal layar, kamper, damar dan rotan, berganti
kapal-kapal uap berburu lada, pala, emas dan kapas. Dunia lama dilipat.
Kapal-kapal uap berganti kapal baja yang bergerak lebih cepat—Granada,
Kordoba jatuh bangun, Damaskus, Baghdad, Istanbul meregang hancur, Suez
terbuka—maka yang dibutuhkan lebih dari pengawet, teritori atau agama,
tapi segalanya. Isi perut bumi dan yang bermukim di atasnya—kukatakan,
segalanya! Maka kota-kota yang bersandar pada alam, tinggal diam, meski
mungkin lebih baik.
Setelah kota-kota hikayat tamat, muncul kota-kota kuartal kedua,
ialah kota-kota kecil pribumi yang lahir dari rahim alam: pelabuhan
ikan, tambang rakyat, atau tempat persinggahan. Mestinya, tanpa sentuhan
yang berarti, ia tumbuh juga: seruas-dua ruas jalan, secabang dua
cabang simpang, tanah lapang, los pasar, dan kantor sederhana untuk
sejumlah urusan—cukuplah. Tapi, kapal-kapal kolonial datang, bendera
maskapai dagang berkibar, terkokang senjata dan meriam ditembakkan.
Segalanya mengalami pembesaran: loji-benteng, kantor wedana-gubernuran,
bandar-pelabuhan, menampung hasrat para pecundang!
***
AKU mencatat beberapa kota seperti itu dengan segala
ikatan kasih yang kupunya. Meski akhirnya harus kuikhlaskan ketika ada
bagian yang terlepas atau dilepaskan. Kusebut untukmu, Sibolga, kota
yang tumbuh dari alam dengan tepian teluknya yang cantik—o, tapian nauli!
Tumbuh ia tak jauh dari sisi Barus dan Singkel, dua kota hikayat di
utara, yang perlahan susut, lampus cahaya. Ya, mula-mula ia hanya tempat
berlabuh kapal ikan berkat lengkung teluknya yang seperti alis kekasih,
dibentengi pulau-pulau kecil sehingga aman tersembunyi. Ramailah kapal
merapat dan maraklah tepian yang cantik itu. Hingga tiba masa tangan
kolonial merogoh teluk sampai ke jalanan, kampung dan lorong. Gedung dan
gudang didirikan. Pasar, jalan dan pemukiman diperlebar. Genderang
dunia baru dipancarkan.
Tapi ketika Jakarta atas nama kedaulatan memegang tampuk kekuasaan,
pandangan diarahkan ke pantai timur, ke tepi Selat Melaka, jalur laut
paling sibuk di dunia. Medan, kota perkebunan dengan pelabuhan
Belawannya berada persis di tengah kesibukan itu. Tinggallah Sibolga
dengan wajah canggung disurukkan; gedung-gedung setengah jangkung, pasar
dan kampung kembang tak jadi, gudang-gudang dialihkan. Peran Sibolga
sepenuhnya diambil Medan yang tumbuh bagai raksasa gemuk penuh beban.
Sampai kini, kita tahu, harapan Sibolga untuk jadi ibukota propinsi
baru—Tapanuli—kian sayup dan tidak kedengaran lagi.
Nasib Sibolga tak ubahnya Sabang, kota di ujung barat tanah air yang
sempat terlantar ketika pemerintah sibuk dengan kota impian di
perbatasan Johor-Singapur. Status pelabuhan bebas Sabang dicabut,
dialihkan ke Batam, demi mimpi kejayaan dalam satu malam. Meski
statusnya kini dikembalikan—dan Batam tak kunjung besar—Sabang tetap
gugup seakan menyaksikan air raya sehabis surut. Pun Cilacap di selatan
Jawa yang dalam sejarahnya pernah mencecap masa jaya, kini mati suri
setelah untuk terakhir kalinya sukses menjadi emergency exit
orang Belanda saat Jepang mengumandangkan Asia Timur Raya. Cirebon
dengan “jalur rotan”-nya lantas menggantikan peran Cilacap, tapi tak
lama kemudian, ketika rotan hilang di pasaran, Semarang dengan “jalur
peti kemas”-nya tak lagi tergantikan.
Kota senasib lainnya adalah Padang, dengan muaranya terlindung Bukit
Barisan yang tercelup langsung ke lautan. Orang Minang, Nias, Jawa,
Cina, Arab, Keling, India hidup sebagai nelayan dan pedagang tanpa
hasrat menundukkan. Barulah pada tahun 1620 orang Aceh merebut Padang,
dan tahun 1664 VOC mengusir Aceh, maka dimulailah intrik kekuasaan.
Kapal kulit putih ganti lego jangkar di Muara, dari mana kota berkembang
ke utara dengan Pasar Gadang, Jalan Belantung dan Menara Jam di
perempatan, melebar terus ke barat, ke bukit kapur Indarung. Batubara di
Ombilin—pedalaman Minangkabau—pun mulai ditambang, dan Padang termasuk
kota pertama di Hindia yang mengenakan sabuk besi di pinggang;
terbelintang dari celah gunung sampai ke tepi lambung kapal di Emma
Haven, yang bertahun-tahun kemudian kau kenal sebagai Teluk Bayur dalam
sebuah lagu selamat tinggal. Maka sempurnalah Padang menggantikan
Tiku-Air Bangis di utara, Indrapura-Bandar Sepuluh di selatan, juga
Siak-Senapelan di timur kawasan.
Ketika Jakarta mengambil-alih kekuasaan, sedikit berbeda dengan
Sibolga, Padang tidak serta-merta ditinggalkan. Pandangan tak langsung
diputar ke lain kota, katakanlah ke Pekanbaru di pantai timur atau
Bukittinggi di pedalaman. Padahal kota yang terakhir pernah jadi ibukota
Sumatera bahkan pusat pemerintahan darurat republik, dan kota yang
pertama santer beraroma minyak dunia. Tapi, pamor Padang justru digosok
tangan segar Orde Baru, seolah membayar rasa bersalah atas kekuasaan
terdahulu yang membombardir kota ini dari udara. Ya, Padang digenjot
seakan dengan cara itu ranah bunda memanggil bekas pejuang PRRI kembali
ke pangkuannya. Terminal Lintas Andalas, Pasar Raya, Jalan Permindo yang
sibuk, Duta Mall dengan kaca-kacanya yang lebar, Stadion Agus Salim,
Taman Budaya dan proyek Banda Bakali, itu beberapa hal yang kuingat
benar. Gilang-gemilang. Kantor gubernur dengan atap seruncing tanduk
kerbau, dan kantor walikota yang sebersih seekor angsa, tampak seperti
sepasang pengantin di jalur utama. Monumen Adipura terpancang di
pertigaan, seiring maraknya semboyan adat dan agama sebagai watak kota,
meski kadang kurasakan bagai kepalan tangan pada Tugu Tinju di sebuah
simpang—mengacung ke udara, kosong-hampa. Sebab setidaknya kuketahui,
diam-diam, perempuan malam bergincu tebal mulai berkeliaran di Taman
Melati dan pantainya yang panjang.
Apa pun, Padang lantas jadi tujuan utama di Sumatera Tengah dan
betapa penuh gairahnya ia. Kampus (swasta atau negeri) memperkokoh diri.
Lembaga kursus (yang resmi dan tak resmi) tumbuh subur, terpacak di
ruko-ruko sepanjang jalan kota tercinta, memakai istilah Akademi,
Institut, College atau Lembaga. Bidang terbanyak adalah keperawatan,
akuntansi dan computer, anehnya jarang kutemui bidang pertanian dan
kelautan! Mahasiswa berdatangan dari Bukittinggi, Kerinci, Jambi,
Pekanbaru, Bengkulu, Lubuklinggau, Tanjungpinang, Sidempuan, bahkan Aceh
dan Medan. Lulusan universitas di sini jadi trendsetter di
daerahnya masing-masing. Sementara lembaga-lembaga kursus sukses
menghasilkan anak-anak muda “siap pakai” yang demi Dewa Zombie, cocok
benar dengan azaz masyarakat tinggal landas dalam kamus pembangunan Orde
Baru. Maka sebagaimana kau ingat, mereka berlomba menawarkan ijazah ke
kota-kota industri yang sedang tergerek—Batam, Serang, Tangerang,
Surabaya—meski soal nasib, entahlah.
Gairah Padang juga tercermin dari sejumlah surat kabarnya yang terbit
meyakinkan: menyebar di Sumatera Tengah bahkan Jakarta, dengan kepala
biro di kota-kota tetangga yang tidak punya media, atau yang jatuh
bangun merintis media. Kantor perwakilan wilayah mulai PLN, Pos, Telkom,
Armada Laut dan entah apa lagi ada di sini. Sementara Pekanbaru, kau
tahu, benar-benar hanya berupa pasar yang diramaikan tiap hari pekan
seperti pada zaman Senapelan. Kadang muncul rasa simpati kami—aku dan
beberapa kawan koresponden koran lokal—bahwa Padang punya terminal bis
yang hidup, berdampingan dengan Pasar Raya; sedang Pekanbaru yang kaya
minyak hanya punya terminal kecil kusam, Mayang Terurai, di tepi seruas
jalan. Nangka atau Tambusai. O, sangsai!
***
KINI, tanpa aba-aba muncullah kota-kota kuartal
ketiga, ialah kota-kota yang berpacu dengan hiruk-pikuk isu dunia.
Demokrasi. Otonomi. Desentralisasi. Apa yang terjadi? Banyak hal yang
terjadi. Tangan sentral kekuasaan telah dipelintir, dipatahkan, berganti
tangan-tangan lokal yang merumuskan masa depan. Membagi wilayah dan
kekuasaan, membuat surat-surat, melayangkan proposal. Pemekaran.
Lahirlah kota-kota transisi. Anggota parlemen dan raja-raja kecilnya
aman terlindung dalam kitab undang-undang demokrasi. Rapat terkunci.
Maka kota-kota hilang, kota-kota datang… Padang yang dulu
terkembang jadi guru, jadi titik tuju, kini buntu tak berdaya.
Menyusurinya pada suatu hari, kutemukan simpang-simpang semati tugu,
pasar raya yang terancam ditinggalkan, terminal bis berganti mall. Kota tanpa terminal? Betapa! Terasa hatiku dicakar kucing liar, dan dengan gemetar kupunggungi mall
yang merampas ingatanku—ingatan semua orang. Kususuri Jalan Pancasila
yang terbentang ke tepi laut, membawaku menjauh dari kenangan. Betapa
larut. O, bis-bis dengan klakson melengking, terasa bergema lagi. Tapi
tidak. Itu debur ombak melimbur rumah-rumah yang gelisah dalam tidur.
Maklum, gempa dan ancaman tsunami datang menghoyak tak kenal waktu
membuat penghuni Padang seakan perang mental dengan alam. Banyak yang
bertahan, karena bukankah seorang pemimpin kita yang bijak-bestari telah
mengutip pepatah lama: kalau takut gelombang jangan berumah di tepi
pantai? Tapi hidup tak sesederhana kutipan Marzuki Alie, lihatlah,
sebagian orang terpental, pindah ke pegunungan, terutama ke Payakumbuh,
negeri yang airnya jernih ikannya jinak. Terpisah hanya oleh Kelok
Sembilan dengan Riau, mau tak mau Payakumbuh melirik Pekanbaru, ibukota
orang Melayu yang terus tumbuh dan kini benar-benar seperti pasar
baru—jauh dari zaman Senapelan.
Tinggallah Padang yang stagnan, buntu, menyesakkan. Terlebih selama
ini ia telah melupakan pintu belakangnya ke selatan; jalan ke bekas
Bandar Sepuluh, Indrapura dan Tapan, nyaris bagai jalan ke jamban.
Padahal, jalan itu menghubungkannya dengan dunia luar, kota-kota
perbatasan, Bengkulu, Jambi, terus ke Lampung atau Palembang. Tapi
Padang lebih tergoda pantai timur sehingga jalan ke situ jadi pintu
depan yang selalu terbuka. Jalan lempang yang terus diperbesar menuju
kota-kota dicelah gunung—Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh—terus ke
Pekanbaru, Duri dan Dumai. Bahkan kini akan dibuat jalan tol; kuamsal
klakson kematian bagi sebuah kota di pantai barat Sumatera.
Tanpa tedeng aling-aling, tanpa instruksi (ini zaman demokrasi,
Bung!) Pekanbaru segera mengambil-alih peran kawasan; kota transisi yang
terus tumbuh, terus tumbuh, jadi titik tuju segala jurusan. Lihatlah,
bis-bis dari Jawa selalu mencantumkan Pekanbaru sebagai trayek utama,
sementara bis-bis ke Padang yang dulu merajai jalan Lintas Sumatera
tinggal cerita. Begitu pula pesawat terbang. Jika hendak mengirim barang
ke Pekanbaru, anda perlu mem-booking pihak cargo satu atau dua
hari sebelumnya, sebab muatan selalu penuh. Tapi coba iseng bertanya
tujuan ke Padang, barang anda bisa berangkat saat itu juga!
Begitulah, Pekanbaru dengan enteng menyandang banyak tugas
nasional—meski kadang tak signifikan—mulai Festival Film yang ramai
gosip selebritis, Kongres PSSI yang kisruh habis, dan kini PON yang jadi
bancakan segar petualang. Toh berbagai fasilitas terus dibangun, meski
isinya tak cukup meyakinkan: galery seni, perpustakaan megah, kantor
gubernur bertingkat-tingkat, terminal besar di luar kota, dan tak lupa mall dan hypermarket di
mana-mana. Ada jaminan dana untuk itu semua. Sebab bukankah otonomi
memberi banyak jatah minyak, gas, sawit dan sisa kayu hutan, meski yang
tercecer juga tak kalah banyak?
Seorang kawan lama, mantan kepala biro koran terbitan Padang, berkata
padaku dengan alis terangkat,”Dulu, kami tak punya koran dan aku bangga
bisa bergabung dengan koran urang awak. Tapi sekarang koran
yang terbit di kotamu, induknya ada di Pekanbaru. Terminal bis? Paling
besar di Sumatera, bahkan ada tempat menginap segala. Dan Padang,
dengar-dengar tak punya terminal. Lintas Andalas tergusur, Aie Pacah
terlantar, begitu tak?”
Apa pun, bersimpati atau mengejek, aku paham: Ya, itulah yang terjadi…Tapi
tak urung kubalas juga ia, setengah bercanda,”Terminal Padang justru
kian besar, Kawan, sebab setiap sudut kota adalah terminal. O, tidak.
Terminalnya dialihkan jadi bandara internasional, sehingga Padang punya
dua bandara: Tabing dan Minangkabau. Sementara Bandara Syarif Kasim Riau
kalah bersaing dengan terminal bisnya yang kelewat besar sehingga
bis-bis takut masuk ke dalamnya….” Kaget juga ia, tapi lantas kubawa
tertawa.
***
KIRANYA banyak kota pasang-surut, bahkan hidup-mati,
dalam siklus yang kusebutkan. Penyebabnya beragam. Mulai tangan panjang
kekuasaan yang menyentuh semua hal, atau kekuasaan bertangan panjang
yang mencomot setiap jengkal, apakah bedanya? Habisnya sumber alam,
berubahnya peta dan jalur utama sampai keroposnya kebijakan lokal,
mungkin juga bencana yang membuat karam. Secara sederhana siklus itu
bisa direka: sebuah kota tumbuh dari alam, diolah tangan kasih orang
lokal, lalu direbut kolonial yang menyingkirkan peran pribumi.
Kemudian, atas kehendak zaman, kota berpindah ke kekuasaan nasional yang
dengan emosional (juga serampangan) menuding-nuding langit dan bumi
dikuasai oleh negara—menyingkirkan kemungkinan langit dan bumi sahabat kami.
Begitulah, sebelum kolonial mengendus timah Pulau Bangka, orang-orang
tempatan terbiasa mengayun cangkul di ladang-ladang bertanam lada atau sahang.
Lewat cara ini Mentok di barat tetap tumbuh alamiah, seolah kau bertemu
kubangan dan dangau pengembala di balik semak-semak yang tak sengaja
dikuakkan. Tapi, orang kulit putih yang semula mabuk kepayang akan lada
atau sahang, mulai menguak takdir, tak sekedar semak-semak.
Mereka kerahkan tenaga perantau Cina dari Tumasik dan Malaya memulai
pesta bertahun-tahun suntuk menggali dan mengolah: timah, timah, timah!
Maka muncullah Belinyu di utara yang petak-petak tokonya tetap bisa kau
hitung sambil jalan, tapi secara “ruh” ia pusat tambang kolonial.
Selamat tinggal lada-sahang, cempedak-durian hutan!
Sampai akhirnya pesta itu dilerai pekik sorak kemerdekaan dari sebuah
bangsa yang sudah pandai mencium isi perut bumi. Mereka usir si asing
pergi. Proklamasi, Merdeka atau Mati. Maka kekuasaan pribumi menyusun
rencana atas kota-kotanya sendiri. Nasionalisasi. Merah putih.
Investasi. Tapi kekuasaan nasional kadang tak masuk akal dibanding
kolonial. Bukannya membuat ruang kota lebih nyaman, tangan itu malah
mengobrak-abrik taman, kanal, jalan dan lorong-lorong sisa kolonial.
Jadi bancakan. Selagi ada hasil untuk dikeruk, sepanjang itu pula
semuanya ditarik masuk: investor, pihak ketiga, tentara dan senjata.
Ketika bahan galian habis, hutan-rawa tinggal cerita, tangan itu tak
mampu melakukan apa pun, kecuali meninggalkannya tanpa dosa—kolong menganga, lorong tambang tak berguna, bukit-bukit krowak, tata ruang tanpa arah dan bangunan tua rusak binasa.
Lewat cara ini Sungailiat dan Koba digali, meski pada awalnya Belinyu
di utara tampak bakal hidup selamanya. Tapi ketika timah akhirnya
susut, Belinyulah yang lebih dulu tutup seakan sudah malam. Kau harus
bersiap dengan lilin atau senter di tangan, menuruni tangga rumah-rumah
tua, sebab sebagaimana layaknya usaha gulung tikar, listrik mendadak
tercerabut dari saklar. Sungailiat pun surut, Koba mencoba bertahan,
Jakarta dan Palembang sudah lebih dulu kenyang! Kini giliran laut
ditambang, tak sebatas pasir kuarsa—toh masih ada sisa timah yang bisa
disedot kapal-kapal baja. Tak mau jadi penonton, orang-orang yang tak
lagi punya sahang di ladang-ladang, membuat ponton-ponton kayu
meniru cara menyedot kapal keruk—meski mereka dicap “orang TI”, tambang
ilegal. Apa boleh buat. Mereka perlu hidup, selayaknya kota mereka yang
nyaris hilang, Pangkalpinang, kini bangkit jadi ibukota propinsi
baru—yang terlambat! Tapi tak ada kata terlambat bagi sebuah kota yang
secantik dan sejinak gadis Bangka; selalu ada saat ia tumbuh dipinang!
Proses peralihan yang lebih kurang sama terasa pula di sebuah kota
ujung pulau: Baubau di Buton. Kota yang ranum berkat pelabuhannya ini,
diincar kolonial karena betapa terbukanya ia di tengah lintasan
rempah-rempah. Sementara kapal-kapal kecil seperti biduk kora-kora
bisa berlayar dalam jarak yang singkat ke Maluku, “kapal induk” tinggal
menunggu dalam jarak aman di Pelabuhan Baubau. Sampai lambungnya penuh,
siap bertolak ke Melaka, Caliccut, dan terus ke Eropa. Lagi pula kota
ini punya istana dan benteng di atas Bukit Palagimata, bukti bahwa
tangan kasih orang lokal telah menjaga dan membesarkannya.
Strategi VOC: jika kota direbut salak meriam, isyarat tak bakal aman
sepanjang masa sebab, kau tahu, Baubau bukan kota yang tumbuh dalam
semalam. Lihatlah, istananya terlindung benteng batu di ketinggian bukit
karang, tak mungkin ditundukkan dengan sikap keras kepala. Maka
ditawarkan cara lama: kerjasama. Ya, lewat kerjasama saling untung
berdagang rempah-rempah, VOC dan Buton membangun apa yang disebut
“persekutuan abadi”. Namun dalam perjalanannya, seperti dapat diduga,
persekutuan berbuah penaklukan, sebab tiada benteng yang tak bercelah.
VOC, kemudian Gowa di barat daya—dalam misi memburu Arung
Palakka—sama-sama memanfaatkan celah itu, membuat kota jatuh-bangun,
setengah hancur. Untunglah sejarah tampil jadi penengah. Kulit putih
hengkang, Arung Palakka pulang, dan tibalah giliran kekuasaan nasional
menggantikan tahta pulau karang.
Tapi anehnya, kekuasaan Jakarta via Ujungpandang malah berpaling
(atau berhitung?) atas Buton. Tanpa proses berarti, mereka boyong semua
hal yang berkaitan dengan status kekotaan keluar dari Baubau,
dipindahkan ke tempat yang belum siap benar di kaki tenggara Celebes, di
tepi teluk agak pedalaman. Dengan cara ini, kekuasaan nasional
tampaknya ingin tempat yang steril untuk dikendalikan, yakni Kendari,
alih-alih Baubau yang dianggap terkontaminasi oleh “persekutuan abadi”,
kehadiran Arung Palakka, isu basis PKI, dan entah apalagi. Aih, tangan kekuasaan mana yang mau repot-repot membersihkan piring kotor sisa makannya sendiri?
Maka Kendari dipaksa menanggung beban sebagai ibukota propinsi Sulawesi
Tenggara, yang kemudian terbukti, alangkah beratnya! Tidaklah aneh
bahwa yang kini terjadi sebaliknya: Kendari terus-menerus didera beban
sepi, sementara Baubau semarak dan bangkit lagi—kota ini memang petarung
sejati, selayaknya hidup di lautan!
***
BEGITULAH, ada banyak kota yang dulu jaya, kini
surut, hilang gema. Seperti laut surut hilang berita. Cuaca berubah.
Kota-kota transisi berebut tumbuh, mengambil-alih kejayaan yang bersisa,
meski tak mudah. Dan kota lama pun tak hendak menyerah, susah-payah
menjaga apa yang pantas dijaga. Sebut saja Sawahlunto, kota tambang di
pedalaman Minangkabau itu, dulu penghasil batubara nomor satu, kini
harus bekerja keras mengolah bekas lorong tambang dan gudang-gudang
tuanya, lori dan kereta uapnya untuk memikat orang datang berwisata.
Sementara perusahaan tambang yang bercokol sejak zaman kolonial, pergi
bergegas seolah “urang sumando” meninggalkan rumah
anak-kemenakan kami yang merana. Pun Bukittinggi yang lebih dulu
berjuluk kota wisata, setelah masa sebagai ibukota Sumatera pada tahun
50-an lewat, kini lesu darah. Tak ada lagi kabar baru yang terdengar
kecuali kabar lama yang berulang: kebakaran pasar, sangketa wilayah,
pertengkaran, sesekali pesona Jam Gadang dan Ngarai Sianok yang perlahan
pudar.
Demikian halnya di Kalimantan: diam-diam, Balikpapan mengambil alih
peran Samarinda karena dataran rendah Mahakam itu kian sesak dan
terendam banjir. Sementara Balikpapan tumbuh teratur dengan jalan-jalan
membujur lapang, trotoar tanpa pedagang, lengkap dengan zebracross bertulisan,”Menyeberang di sini Anda dilindungi undang-undang.” Sebuah koran menurunkan headline,”Balikpapan
ibukota Kalimantan”. Itulah kenyataannya. Kecuali kantor gubernur,
bukankah semua kantor penting ada di Balikpapan? Ini tak beda dengan
Banjarbaru yang mengambil peran Banjarmasin di tepian Barito yang kian
penuh, berdebu. Bandar udara dan sebagian Universitas Lambung Mangkurat,
kantor-kantor tambang dan jasa, bahkan kantor gubernur Kalsel kini
bergeser dari kuala ke hulu.
Di Lombok, nama Ampenan terasa sayup di bawah gema nama Mataram.
Meski bersama Cakranegara, Ampenan dan Mataram masih satu kawasan, tapi
kita tak akan pernah mendengar lagi nama Ampenan diucapkan seperti
bertahun-tahun lalu ketika seseorang menyebut Lombok, Gogoh Rancah atau
Nusa Tenggara. Ampenan telah menjadi kota tua yang termangu bisu di
sudut pelabuhan lama. Begitu juga Singaraja Anglurah Sakti, dulu ibukota
Sunda Kecil, pelabuhan ramai di utara, kini tinggal jalan-jalan kecil
seolah tak ada apa pun yang pernah terjadi di sana. Denpasar bersama
Kuta, Gianyar dan Tabanan di kaki Pulau Dewata telah merenggut perannya
dalam metropolis Sarbagita yang terus menggurita!
Di kaki barat Sulawesi, kudapati Majene, kota afdeling
Belanda, kini seperti gadis Mandar yang ditinggal kekasihnya berlayar.
Upaya merawat dan mendirikan universitas lewat slogan “Kota Pendidikan”,
tak kunjung mendatangkan kekasih yang dinanti. Orang lebih suka
mendapati gadis Mandar yang lain di timur, Polewali, kota transit,
dagang dan jasa. Atau ke barat, Mamuju, yang mendadak penuh pesona sejak
didapuk jadi ibukota propinsi baru, seolah gadis pingitan yang keluar
dari balik alat tenunnya. Atau lebih ke barat lagi, Pasangkayu, yang
berpacu membuka ruang baru, penuh kemungkinan dan godaan!
Inilah masa kota-kota otonomi tumbuh, jadi kota transisi yang siap
menggantikan peran kota-kota lama, yang buntu, stagnan dan sarat beban.
Meski sesungguhnya tak ada yang benar-benar bisa tergantikan.
Bagaimanapun kota lama telah menjadi cerita, legenda atau kenangan,
menggenangi ruang-ruang ingatan, susah-payah bertahan dari peta, sejarah
dan roda zaman. Sebaliknya, siapa menjamin masa depan kota-kota
transisi secerah langit tanpa awan? Tanpa mengabaikan harapan besar,
lihatlah betapa hampa kenyataan. Dalam kota yang berlari, terus berlari,
kusaksikan orang-orang lokal, orang-orang gusuran, pemilik kota yang
sejati, malah terabaikan, seperti bagian kota tua dibiarkan terlantar,
menunggu ambruk atau runtuh, mungkin akan menimpa kepalamu. O, betapa
sedih dan mengancam! (*)
/Parigi Moutong-Yogyakarta, 2011-2012
gawe rata kiri-kanan, zuh, c'e gmpang mocoe.
BalasHapusiki awakmu ngetik? sa'mono okehe?