Oleh: Eka Maryono
Suara merdu Ummi Kulsum lewat lagu Alf Leila We Leila mengiringi ratusan
turis menuruni tangga kapal The Pharaoh setelah berjam-jam menghabiskan
malam dengan berlayar membelah Sungai Nil. Aku menengok Bonang.
Wajahnya kuyu. Sejak dulu dia tidak pernah kuat menahan kantuk.“He, cari sarapan dulu,” kataku.
Mukanya mendadak ceria.
“Di Pasar Kan El Khalili, ada gulai kambing yang enak,” katanya.
Kami masuk ke dalam taksi. Sejurus kemudian kami tiba di Pasar Kan El
Khalili. Pasar ini sangat dikenal di Kairo. Biasanya turis dibawa kemari
untuk belanja guci, ukiran, gantungan kunci, sampai perhiasan emas dan
perak. Letak pasar ini berdampingan dengan Masjid El Hussein dan Masjid
Al Azhar yang berada di lingkungan kampus Al Azhar, tempat Bonang
meneruskan kuliah S2-nya.
Kami masuk ke sebuah restauran. Seorang pelayan berwajah Asia
menghampiri kami. “Menu biasa,” kata Bonang. Pelayan itu senyum kemudian
pergi.
Bonang manggut-manggut sambil menyelipkan tusuk gigi ke sela bibirnya.
Tusuk gigi itu kemudian digerak-gerakkan ke berbagai arah, sebuah
kebiasaan yang dia lakukan sejak dulu saat menunggu pesanan tiba.
Aku mengenalnya sejak sama-sama kuliah. Aku mengambil jurusan Filsafat
Agama, sementara ia menempuh Studi Dakwah. Setelah lulus aku langsung
menikah dan bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah wanita. Adapun
Bonang sempat kerja serabutan selama lima tahun sebelum akhirnya kuliah
S2 atas bantuan kakaknya.
Al Azhar cukup favorit bagi mahasiswa asal Indonesia. Di sini biaya
kuliah relatif terjangkau dan biaya hidup sehari-hari masih tergolong
murah. Cukup uang setara delapan ratus ribu rupiah untuk bertahan hidup
selama sebulan. Biaya itu sudah termasuk sewa kamar.
Pelayan datang membawa dua mangkuk gulai, dua potong roti ukuran besar,
serta dua gelas kopi susu. Bonang langsung menyantap makanannya. Ia
merobek roti lalu mencelupkannya ke kuah gulai. Sekejab keringat
membasahi keningnya.
Rasa gulai kambing ini mirip gulai kambing khas Indonesia, hanya saja
sedikit lebih pedas, seperti kebanyakan merica, dan memakannya memang
dengan roti, bukan nasi.
Kulihat Bonang semangat sekali mengunyah sobekan roti terakhir. Keringat
mengalir ke ujung hidungnya lalu masuk ke dalam mangkuk. Tapi ia tidak
peduli. Kuah gulai bercampur keringat itu dihabiskannya tanpa sisa.
Harus kuakui, nafsu makan laki-laki ini memang sebesar tubuhnya.
“Kira-kira kapan istrimu melahirkan?” katanya sambil menyandarkan
punggung ke kursi. Nafasnya agak terengah. Perang melawan kuah gulai
membuatnya lelah. Sebatang rokok diselipkan ke bibirnya yang tebal.
“Mungkin tiga minggu lagi,” kataku.
“Anak pertama setelah bertahun berumah tangga … sebentar lagi kau jadi
bapak. Lucu ya, rasanya baru kemarin kulihat kau menggoda cewek,
tiba-tiba kau kawin dan sebentar lagi punya anak.” Dia tertawa, keras
sekali. Entah apa yang lucu.
“He, pelankan suaramu.”
“Alaah! Santai sedikitlah, di sini bukan Jogja Bung.”
Begitulah dia, kadang terkesan kurang punya perasaan, meski sebenarnya tidak begitu.
“Kau sendiri kapan menikah?” tanyaku.
Dia batuk-batuk. Wajahnya mendadak sendu. Aku menyesal melontarkan
pertanyaan itu. Dulu kekasihnya pergi begitu saja demi menikahi
laki-laki lain.
***
Tiga hari selanjutnya dia mengantarku ke mana-mana. Kebetulan dia sedang
libur semester, dan aku diburu waktu untuk menyelesaikan tulisan
tentang tempat-tempat wisata di Mesir. Aku harus buat tulisan sebanyak
mungkin. Aku tak bisa bayangkan bagaimana raut redakturku bila aku
pulang dengan satu dua tulisan saja.
Hari ini kami mengunjungi Luxor untuk melihat pertunjukkan Sound &
Light di depan kaki patung Sphinx. Kisah peninggalan masa lalu pada
zaman Firaun diceritakan dengan indah melalui permainan sinar lampu dan
suara narator. Untuk menginjakkan kaki ke tempat ini kami menumpang
pesawat terbang 50 menit dari Kairo.
“Apa benar kau sering kemari?” bisikku di sela pertunjukkan.
“Aku bohong, mana aku punya uang buat ongkosnya. Dari dulu aku ingin melihatnya. Untung kau datang.”
Dia menyikut lenganku, kemudian dia menggaruk-garuk celana di sekitar selangkangannya.
“He, jangan garuk-garuk begitu, malu dilihat orang.”
“Ah! Peduli apa sama orang? Kalau gatal ya digaruk! Lagipula semua orang
asyik nonton pertunjukkan ini. Kau boleh buang air di sini kalau mau,
tak ada orang peduli.”
Dia benar! Dengan harga tiket lumayan mahal, pengunjung pasti lebih
senang memelototi pertunjukkan ketimbang memperhatikan orang lain. Tapi
dia mungkin tak menyadari kalau sejak bertemu dengannya tiga hari lalu,
aku perhatikan dia sering menggaruk selangkangannya. Mungkin dia sakit
kurap atau sejenisnya.
Usai pertunjukkan kami mencari hotel. Kami harus menginap di Luxor
karena jadwal penerbangan ke Kairo baru ada besok pagi. Malam itu, aku
tidur nyenyak sekali.
Paginya aku bangun dengan perasaan segar. Bonang masih meringkuk di
balik selimut. Aku minum segelas air, menghabiskan sebatang rokok,
kemudian masuk kamar mandi. Sungguh pagi yang indah, meski pandangan
hanya sebatas tembok kamar.
Sudah banyak bahan tulisan kukumpulkan, cukup untuk membuat beberapa
artikel yang akan menyenangkan hati redakturku. Rencananya hari ini aku
akan kembali ke Kairo, dan besok terbang ke Jakarta. Selamat tinggal
Kairo, kota di mana setiap jengkal tanahnya mengisahkan sejarah, dan
tentu saja selamat tinggal sahabatku Bonang. Tapi saat aku keluar kamar
mandi, Bonang duduk lesu di tepi ranjang.
“Habis mandi, kita langsung ke bandara,” kataku.
Dia menatapku. Wajahnya pucat.
“Kau kenapa? Sakit? ” tanyaku.
Dia diam saja. Aku mendekat dan menyentuh keningnya.
“Badanmu panas sekali, sebaiknya kita ke dokter.”
“Nggak usah … paling-paling masuk angin.”
“Terserahlah, tapi mandilah sana, pakai air hangatnya.”
Dia melangkah lemah ke kamar mandi, dan di pagi itu juga, kami kembali
ke Kairo. Tapi malamnya kondisi Bonang makin parah. Panasnya tambah
tinggi dan dia menggigil hebat. Aku memapahnya ke dalam taksi. Sepanjang
perjalanan tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dia terlalu lemah
untuk bicara, bahkan untuk membuka mata. Badannya bergetar menahan
dingin. Bertahun-tahun kenal, baru kali ini aku melihatnya sakit. Belum
apa-apa, aku sudah merasa kehilangan.
Setibanya di rumah sakit, aku langsung membawanya ke Emergency Room.
Dokter memeriksa kondisinya dan mengatakan dia harus segera dirawat. Aku
membayar uang muka pengobatan dengan uang yang seharusnya kupakai untuk
pulang ke Jakarta. Malam itu aku sama sekali tak bisa memejamkan mata.
Sakit apa temanku ini, kelihatannya serius sekali. Tapi besok paginya
kondisi Bonang membaik dengan cepat. Panasnya turun dan dia tidak
menggigil lagi.
Seorang dokter kemudian datang. Dokter ini bukan dokter yang kemarin
kulihat. Dia membawa hasil tes. Dia bicara dalam bahasa Arab. Aku kurang
mengerti apa yang dia katakan, tapi sesuatu mengenai celana.
Dokter berusaha melepas celana Bonang, namun Bonang kelihatan malu. Dia menahan tangan dokter itu.
“Jangan malu. Lepas saja kalau memang perlu. Mungkin dia mau periksa apa
kau sudah disunat,” kataku bercanda. Aku berharap ada tawa seperti
biasa.
Dokter kelihatan kesal dan sepertinya marah-marah. Bonang akhirnya
menyerah dan membuka celana. Apa yang kulihat selanjutnya membuka tabir
sebuah rahasia: Bonang sakit sifilis!
Sore ini, ketika senja mulai datang, aku menggenggam erat jemari Bonang,
seolah-olah dia kekasihku saja. Dia menangis sesenggukan, persis adegan
dalam sinetron murahan.
“Sudah berapa lama kau sakit?”
“Apa bedanya lama atau baru?”
“Aku tak habis pikir, kau bisa kena penyakit itu.”
Dia diam. Aku tak mau memaksa. Bagaimana pun dia cuma manusia.
“Kata dokter, kau harus dirawat dua hari lagi. Tapi jangan takut, aku akan menemanimu.”
“Bukankah seharusnya hari ini kau pulang ke Jakarta?”
“Nanti aku telpon kantor, kasih alasan masih cari bahan tulisan.”
“Jangan … cari kerja susah … jangan buat kesalahan.”
“Biar saja aku dipecat, toh demi kebaikan. Aku harus menjaga sahabatku.”
“Jangan pikirkan aku. Pikirkan istrimu yang sedang hamil itu. Sebentar
lagi kau jadi bapak, kau butuh kerja untuk menghidupi anak dan istri.
Jangan korbankan mereka hanya demi menolongku. Oh, uangmu akan kuganti.
Aku punya sedikit tabungan. Untuk biaya rumah sakit jangan kau pikirkan.
Besok aku telpon kakakku. Dia pasti transfer uang.”
***
Aku berdiri di balkon lantai dua, depan kamar tempat Bonang dirawat.
Dari sini aku bebas melihat cakrawala. Udara mulai dingin dan rambutku
berkibar ditiup angin senja. Kini aku sadar ada rahasia dalam diri
setiap manusia. Siapa sangka dia bisa mengidap penyakit macam itu.
Kasihan dia, andai dulu dia tidak ditinggal kekasihnya. Kadang sebuah
kesalahan bisa mengubah jalan hidup seseorang. Aku hampir menangis saat
ingat ucapannya tadi, ”Sebentar lagi kau jadi bapak, kau butuh kerja
untuk menghidupi anak dan istri.” Sebenarnya, aku juga menyimpan secuil
rahasia.
Empat tahun setelah menikah, istriku belum juga hamil. Aku mulai
gelisah, apa dia tidak sanggup memberiku anak atau jangan-jangan aku
yang mandul? Tanpa sepengetahuan istriku, aku memeriksakan diri ke
dokter. Hasilnya aku divonis mandul. Kenyataan itu tidak pernah
kuutarakan pada istriku. Aku malu mengakui kelemahanku.
Ketika istriku akhirnya hamil, dengan wajah riang dia kabarkan
kehamilannya. “Akhirnya aku bisa memberimu keturunan,” katanya manja.
Aku senyum dan mencium pipinya. Malam itu dia memelukku erat sekali.
Sekarang apa yang harus kulakukan? Mendesaknya agar mengakui siapa
laki-laki yang telah menghamilinya…? Tapi aku berpikir lebih baik tetap
mengubur rahasia kelam ini, asal aku tak kehilangan perempuan itu.
Aku menghirup nafas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan ke langit
senja. Semoga angin bawa deritaku ke batas cakrawala. Udara makin dingin
dan hari makin gelap. Aku mengintip ke celah jendela kamar. Bonang
tidur dengan pulas. Dengkurnya mengembara dalam senja yang makin pekat
…. ***
*) Dimuat di Harian Suara Pembaruan, Minggu, 26 Juni 2011Eka Maryono
Lahir di Jakarta, 2 Maret 1974. Pendidikan terakhirnya ditempuh di
jurusan Sastra Jepang Universitas Nasional (1991-1997). Pernah aktif
sebagai peneliti dalam komunitas Studi Sastra Jakarta. Bukunya yang
sudah terbit “Etalase Sunyi” (Kumpulan Puisi Kamar, Yayasan Pintar,
2002).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar