20 Maret 2007
Sebuah kiriman menghampiriku … kubuka dan kulihat isinya sebuah surat dan sebuah kartu undangan …Kubaca surat itu …
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh ……
Maaf apabila Dee mengecewakan Ray. Maaf kalo Dee tidak bisa menepati janji Dee untuk menunggu Ray menawarkan kesejatian itu pada Dee. Ray…, Dee ga bohong kalo Dee pernah berharap bahwa Dee ingin menjadi bidadari satu-satunya bagi Ray. Akan tetapi, maaf,Dee rasa kita ga bisa bersatu. De’ merasa bahwa kita terlalu jauh berbeda, dan saat Dee merasa kesepian …, saat Dee merasa membutuhkan Ray datang di sisi Dee, Mas Dony yang datang dan menghibur Dee. Mas Dony lah yang mengembalikan semangat hidup Dee. Dan maaf Ray, de’ ga bilang ke Ray bahwa ga lama setelah itu, Mas Dony melamar de’ untuk menjadi istrinya. Sungguh Ray, Dee benar-benar bingung karena Dee mencintai Ray. Akan tetapi, kemana dirimu Ray? Kenapa kau memutuskan untuk menghilang dariku? Walaupun kau berkata bahwa kepergianmu adalah untuk kembali ke sisiku dalam keadaan yang lebih baik, aku takut bahwa kau benar-benar tak akan pernah kembali lagi. Oleh karena itulah, aku menerima lamaran Mas Dony. Berikut kusertakan undangan pernikahan kami yang akan dilangsungkan bulan depan.Dee
harap Ray bisa datang dan mendoakan kami. Sebisaku, aku akan mencoba melupakanmu. Dan aku akan mendoakan supaya kau menemukan bidadari yang jauh lebih baik dariku dan kuharap itulah yang terbaik Ray.
Terima kasih atas semua cinta, tawa dan kerinduan yang kau berikan untukku.
Wassalamualaikum warahmatullah …<span class=”fullpost”>
Tanpa terasa air mataku telah menetes membasahi surat itu. Hatiku menjerit … jiwaku terisak. Tak ada kata dalam suara yang mampu mengekspresikan kesedihanku saat ini.
Tuhan, katakan padaku kenapa Kau tak mengabulkan harapanku kali ini. Mengapa kau kembali memberikan kesedihan dan rasa sakit yang benar-benar sakit ini kepadaku? Jika memang harus berakhir seperti ini, kenapa dulu Kau memberikan rasa ini kepadaku? Aku hanyalah makhluk hina yang lemah yang tak berdaya di hadapan kuasa-Mu. Aku hanyalah sang pencari yang mencari kesejatian di sela maraknya kesemuan fatamorgana dunia. Aku hanyalah sang pejalan yang mengharap akan menemukan teman sejati untuk menemani perjalanan hidupku. Aku adalah kupu-kupu yang terusir dari surga-Nya, dan kini aku tersesat dalam rimba. Tapi aku sangat merindukan surga itu. Dan kucari adakah yang bersedia menemaniku dan mengingatkanku jalan ‘tuk kembali ke surga-Nya???
10 Oktober 2006
Pikiranku galau … kenapa rasa ini semakin mengusikku. Cinta mulai menunjukkan wajah gandanya. Ah … Tuhan, jangan Kau siksa aku dengan perasaan ini. Berikanlah ketenangan padaku. Jangan biarkan rasa ini mengendalikanku …
Jari-jari ini pun bergerak pada tuts-tuts keyboard …, untuk mengungkapkan segala gundah yang ada di dalam jiwa …
Untukmu ukhti …
Sebuah tanya hadir dalam lubuk rasaku yang terdalam …, apa itu cinta? Sungguh, aku tak pernah benar-benar tahu apa itu cinta. Sungguh, aku tak berani mendefinisikan cinta karena kutakutkan akan mereduksi arti cinta itu sendiri.
Ukhti …
Ingatkah saat pertama kali aku menghampirimu? Ingatkah kau apa yang kutanyakan padamu waktu itu? Secret makes a woman woman???
Ukhti …
Sampai saat ini pun masih ada hasratku untuk bertanya padamu. Sebenarnya apa yang engkau miliki sehingga sayap kesejatianku terbang merendah untuk sekedar memungut perhatianmu? Aku benar-benar ingin tahu mengapa abu-abuku mengharapkan kehadiranmu untuk memberi secuil kasih kepadaku. Abu-abuku yang berarti kerinduan, kesunyian dan kehangatan hati yang terpojok dalam sudut nurani.
Ukhti …
Aku ingin selalu berbincang denganmu. Ingin selalu bercanda denganmu. Ingin dirimu selalu hadir di sisiku. Ingin kau mendekap abu-abuku dan memisahkan hitam dari putihnya. Ingin perasaan ini, kerinduan ini, dan penantian ini, kau balas dan kita wujudkan bersama dalam sebuah kesejatian yang abadi, hingga aku bisa membimbingmu menuju surga-Nya.
Ukhti …
Sungguh, aku tak ingin berdusta padamu sebab dusta itu membimbing kepada kejahatan dan kejahatan membimbing ke neraka-Nya. Aku ingin selalu mengatakan apa yang ada di dalam rasa dan diriku. Apa adanya, tanpa sedikitpun tertutupi. Akan tetapi bukankah rahasia membuat laki-laki menjadi laki-laki? Oleh karena itulah, aku belum bisa menceritakan apa adanya diriku. Karena belum ada ikatan di antara kita. Sebuah ikatan suci yang begitu kudambakan.
Ukhti …
Sungguh, aku berlindung pada-Nya dari keburukan mataku yang memandang sesuatu yang diharamkan-Nya, memandang dan menikmati keberadaanmu misalnya. Sungguh, aku benar-benar takut jika Ia cemburu padamu. Aku takut jika Ia tak menyatukan hati kita berdua. “Walaupun manusia mengorbankan apa yang di bumi seluruhnya, niscaya mereka tidak dapat menyatukan hati(karena hati itu di tangan Allah), hanya Allah yang dapat menyatukannya.” (Al-Anfaal: 63). Aku juga takut dengan ancaman-Nya …, “Aku akan patahkan angan-angan orang yang berangan-angan selain dari-Ku. Aku akan celakakan orang yang bersandar kepada yang lain dari-Ku. Aku akan lamakan kesepian orang yang mencari teman selain dari-Ku. Dan Aku pasti akan berpaling dari orang yang mencintai kekasih selain dari-Ku.” (Al-Futuhatul Makkiyah jilid IV hal.530). Sungguh, aku takut jika Dia memutuskan kerinduan ini dan kembali ‘bercanda’ denganku dengan tidak mengabulkan permohonanku untuk bisa bersama denganmu dalam sebuah kesejatian.
Ukhti …
Ingatkah saat kita chatting dari hati ke hati untuk pertama kalinya. Saat itu kau memaksaku untuk mengatakan siapa sebenarnya dudunger yang kusukai. Sungguh, awalnya aku tak ingin mengatakannya. Tapi adanya desakan darimu dan desakan dari hatiku membuatku mengatakan bahwa kaulah yang kumaksud selama ini. Bahwa kaulah yang menjadi inspirasi dalam setiap kata yang tertulis melalui tuts-tuts keyboard ini.
Dan ingatkah kau bahwa saat itu kau mengatakan sesuatu yang membuatku semangatku hilang dan aku menjadi kacau untuk beberapa waktu???
Ah, kenangan ini sungguh ingin membuatku tersenyum sembari mengejek diriku sendiri. Betapa bodohnya aku yang tak bisa menahan perasaanku. Betapa bodohnya aku yang mengatakan cinta padahal aku sendiri belum siap akan konsekuensi dari cinta itu.
Ukhti …
Engkau adalah orang baik yang pernah kutemui. Paling tidak, aku pernah … bahkan atau sering menerima kebaikanmu itu. Meski tanpa engkau sadari. Sehingga sering aku terjebak dalam lingkaran perasaanku sendiri yang penuh dengan warna-warni keindahan. Apakah aku sedang ‘mabuk cinta’? Cinta yang membuat hati berguncang keras ketika berbincang denganmu atau bahkan saat menyebut dan mendengar namamu. Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari apresiasiku yang berlebihan ini. Lindungi aku dari kelemahan jiwa ini …
Ukhti …
Seiring berjalannya waktu, tak terasa semakin lama kita semakin akrab. Sungguh, namamu telah terukir di sebuah prasasti dari lembaran kisah hidup ini. Meskipun untuk memahat prasasti itu membutuhkan waktu yang lama dan segenap daya upaya. Cukuplah Allah yang mengetahui seberapa waktu dibutuhkan dan daya yang telah aku usahakan.
Ukhti …
Ingatkah kau saat kita bertemu untuk pertama kalinya? Sungguh, aku tak pernah benar-benar menjadi diriku sendiri jika aku berhadapan dengan makhluk yang bernama wanita. Akan tetapi, denganmu … aku bisa menjadi diriku apa adanya. Menjadi diriku yang sangat natural. Lepas …, dan terasa ringan di hati. Seakan ada hembusan angin yang membelaiku dan menerbangkan jiwaku ke nirwana. Inikah cinta yang sejati itu? Yang membuat seseorang begitu bahagia bertemu dan bersama orang yang dicintainya?
Sungguh, kenangan itu tak akan pernah kulupakan. Senyumanmu, candamu, dan segala sesuatu tentangmu yang membuatku semakin merindukanmu.
Ukhti …
Seseorang yang peduli pada abu-abuku bertanya kepadaku. Ingin jadi pecundang atau pemenang? Tentu saja aku ingin menjadi pemenang. Siapa sih yang tak mau jadi pemenang, menjadi yang terpilih olehmu?
Akan tetapi … seandainya bukan aku yang terpilih olehmu. Sungguh, aku sudah menyiapkan diri untuk tidak menjadi siapapun di hadapanmu. Tidak menjadi kerikil di jalan hidup, kalau aku sedemikian kasarnya. Tidak juga menjadi kabut penghalang pandanganmu kalau aku sedemikian kabur dan dingin.
Ukhti …
Berikanlah dirimu sepenuhnya nanti pada ikhwan yang menjadi pasangan jiwamu. Cinta yang suci hanya akan tumbuh pada jiwa-jiwa yang tetap tegar dalam menghadapi terpaan badai cobaan. Dan aku mengharpkan bahwa akulah ikhwan itu …
Ukhti …
Aku akan terus berdoa kepada-Nya semoga kaulah yang akan Ia dekatkan padaku. Dan jika kau bukanlah jodohku …, maka kuharap Ia mau membantuku mengikis pesonamu dari lubuk hatiku. Tuhan, aku berlindung pada-Mu dari segala goda dan bujuk rayu wanita. Jika aku bukan pemilik tulang rusuk wanita yang Engkau kehendaki, jangan biarkan aku melabuhkan hatiku di hatinya, jangan biarkan aku merindukan kehadirannya, kikislah pesonanya dari pelupuk mataku dan usirlah ia dari relung hatiku. Gantilah damba kerinduan dan cinta tulus dan murni yang bersemayam di dada ini dengan kasih dari-Mu. Tolonglah aku, agar dapat mengasihinya sebagai saudara atau sahabat karena keimanan. Dan jangan lebih dari itu. Akan tetapi…, jika Engkau ciptakan dia untukku. Ya Allah, tolonglah satukan hati kami, bantulah aku mencintainya, mengerti dan menerima dia seutuhnya tanpa sedikitpun menodai kecintaanku pada-Mu.
Ukhti …
Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua terjadi berdasarkan skenario-Nya yang benar-benar sempurna. Dan sungguh, aku ingin kau dan aku menjadi pemeran utama dalam suatu scene drama kehidupan ini yang akan berakhir dengan bahagia.
Bisakah???
Ukhti …
Suatu saat … jika kita bertemu lagi … kuharap saat itu adalah saat yang lebih baik dari saat ini. Aku … aku akan tetap menjaga komitmen ini … meskipun kau membenciku … meski kau sudah tak mengharapkan hadirku … dan meski aku bukan apa-apa bagimu … karena aku mencintaimu … mencintaimu dengan segenap rasa yang ada di dalam diriku.
Ukhti …
Terima kasih untuk semua hal yang telah kau berikan kepadaku. Terima kasih kau telah membaca sampah dari hatiku ini. Semoga Allah mempertemukan kita dalam keadaan yang lebih baik dan terbaik.
23 Maret 2007
Aku hanya bisa berkata dalam bisu bahwa aku sungguh harus meminta kejelasannya padanya hari ini. Kubulatkan tekad untuk menemuinya. Saat aku membuka pintu, kulihat sosoknya menghampiriku …
“Assalamualaikum. Maaf Ray, apa aku mengganggumu?”
“Tidak Dee, aku tak pernah terusik dengan kehadiranmu.”
Kulihat senyumnya merekah, begitu menenangkan jiwa …
“Ray, aku ingin berbicara denganmu …”
“Iya Dee, ada apa?”
“Apa kau masih menyukaiku?”
“Iya Dee, aku masih menyukaimu.”
“Aku merasa aneh denganmu Ray. Aku heran,… kenapa kau masih menyukaiku?”
Aku terdiam …, membisu …, lalu muncul keberanianku ‘tuk menjawabnya …
“ Memang …, aku memang masih dan akan selalu menyukaimu Dee. Kau tau kenapa???karena aku sangat percaya pada Tuhan. Hanya itu.”
“Maksudmu??aku tak mengerti dengan apa yang kau maksudkan Ray”
“Dee, aku percaya …, aku percaya bahwa Tuhan tidak menciptakan sesuatu secara sia-sia, perasaan yang Ia berikan untukku ini, aku yakin … sangat yakin bahkan … takkan pernah tersia-sia. Semua yang Ia tebarkan di dunia ini pasti ada maknanya, dan aku akan selalu menyukaimu untuk menyibak makna yang Ia sembunyikan itu.”
“ Tapi Ray,…”
“Sudahlah Dee, bertemu denganmu saja sudah kuanggap nikmat yang diberikan Tuhan untukku. Aku percaya aku berjodoh denganmu, entah apakah itu sebagai saudara,… sahabat,… atau bahkan sesuatu yang tak mungkin bagi kita.”
“Ray …, kau tau kankalau aku tak mungkin menjadi milikmu?”
“Tentu Dee …, perasaanku padamu terasa begitu ikhlas …, aku tak mengharapkan apa-apa darimu, bagiku perasaan ini saja sudah begitu berarti …, aku percaya …, Tuhan ingin mengajariku sesuatu lewat dirimu walau ku belum tau apa itu …, yang pasti …,, aku akan terus merindukanmu walau kau telah akan menjadi milik orang lain …, walau kau akan menuju ke ribaan orang yang akan menjadi qowam bagimu,… aku akan tetap merindukanmu … bila perlu ‘kan kutunggu jandamu …”
“Tidak Ray, tidak …, aku mohon padamu …, aku mohon lupakanlah aku …, aku akan membantumu sebisaku …, membantumu untuk melupakan aku.”
“Melupakanmu???tidak akan pernah, aku akan terus merindukanmu …, setidaknya sampai Tuhan yang menghentikanku …”
“Raay, aku mohon lupakanlah aku …, ini demi kebaikanmu …”
“Tidaaaaaaak …, tidak akan …”
Sesaat kututup mataku tuk menghalau air mata yang akan tertetes …, saat kucoba ‘tuk membuka mataku … tiba-tiba semua terasa gelap … dan samara kudengar dia memanggil namaku … dan entah apa yang terjadi selanjutnya.</span>
bgus bnget..
BalasHapusi love it!!!!!!!!